Kamis, 08 November 2012

Acara Kesyirikan di Tulungagung: Jamasan Kyai Upas

Sesungguhnya Alloh tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Alloh, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An Nisaa : 48)

Syirik dibagi menjadi dua menurut keburukan kualitas kedurhakaanya kepada Alloh:
  • Syirik Besar
  • Syirik Kecil
Seseorang yang melakukan Syirik Akbar disebut orang Musyrik. Musyrikin dapat menjadi Kafirin ketika mereka melakukan Syirik Besar (Akbar) dengan tegaknya hujah kepadanya dan pelakunya terlepas dari batasan-batasan takfir seperti contohnya adanya paksaan (atau ikrah) dan intifa'ul qosdi (atau kesengajaan). Pelaku dosa besar...tidak bisa disebut sebagai Kafirin... tetapi orang yang menampakkan peribadatan kepada selain Alloh itu bisa masuk sebagai Musyrikin...walau belum datang hujah kepadanya.

Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,
aku tidak akan beribadah apa yang kamu ibadahi.(QS. Al Kafirun: 1-2)
Salah Kaprah tentang Makna Ibadah
Jangan artikan ibadah dengan menyembah.. itu merupakan pengertian yang naif sekali. Beribadah itu adalah TAAT dan TUNDUK. Ingat.. TAAT, TUNDUK, HUKUM tidak bisa dipisahkan. Jadi engkau dikatakan beribadah kepada Alloh jika engkau taat dan tunduk pada hukum (aturan) Alloh Swt. Kalau engkau taat dan tunduk pada sebuah Tombak yang tidak ada artinya (tidak mendatangkan manfaat dan madhorot) berarti engkau telah beribadah kepada Tombak itu...
Maka

Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir,
aku tidak akan beribadah apa yang kamu ibadahi.(QS. Al Kafirun: 1-2)
Orang-orang yang beriman tidak akan beribadah seperti ibadah orang-orang kafir, yang telah menyimpangkan ketaatan dan ketundukan kepada selain Alloh kepada aturan selain aturan Alloh Swt.
Apa dasarnya ibadah adalah taat dan tunduk..?? adalah pada surat Yusuf ayat 40
....Keputusan hukum (aturan) itu hanyalah kepunyaan Alloh. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak beribadah kepada selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui. (QS. Yusuf: 40)

Lihat pada ayat di atas, perintah tentang beribadah kepada Alloh Swt, mempunyai korelasi dengan hukum (aturan) Alloh Swt. Manusia, dan siapapun tidaklah berhak membuat hukum sendiri, karena keputusan hukum (aturan ) itu hanyalah kepunyaan Alloh... Sehingga, seharusnya dalam menetapkan sesuatu, manusia mesti merujuk pada Al Qur'an dan Al Hadits, tanpa harus mengikuti hawa nafsu untuk membuat aturan sendiri. Seperti lihat, mereka menetapkan aturan untuk memandikan Kyai Upas (sebuah tombak) yang disakralkan...
Dan janganlah kamu mengadakan tuhan ( ilah) yang lain di samping Alloh. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Alloh untukmu. (Qs. Adz Dzariyat: 51)
Sebagai wujud kepedulian terhadap masyarakat Tulungagung yang masih banyak terdapat acara-acara kesyirikan yang menyesatkan seseorang sejauh-jauhnya. Maka saya menghimbau, bagi siapa pun, untuk tidak meniru jalan orang-orang musyrik seperti yang nampak pada foto-foto di Jamasan Kyai Upas. Mereka tidak dipaksa untuk melakukanya.. bahkan mereka suka rela untuk melakukanya.. Sungguh ini merupakan perbuatan kesyirikan yang harus dihindari dan dicegah keberadaanya.. kelanggenganya..  
Ingatlah.. jikalau engkau merasa nyaman dengan acara kesyirikan tersebut, jika engkau merasa sejahtera dengan acara tersebut.. engkau berarti sedang mendapatkan siksa Hati. Siksa Hati itu lebih sulit untuk diobati, karena kebanyakan orang tidak terasa dengan penyakitnya itu. Ingatlah.. ketika engkau berbuat kesyirikan dan bahkan engkau terjatuh pada kemusyrikan atau bisa saja mengakibatkan engkau Kafir, maka di dunia ini engkau akan mendapatkan siksa hati. Siksa hati ini akan dialami oleh kebanyakan orang musyrik dan orang kafir yang merasa senang dengan gelimang kemusyrikanya, dengan gelimang kekafiranya. Sehingga mereka tidak mengetahui akibat dari perbuatan yang mereka lakukan itu. 
Yang Jelas.. tidak akan berkumpul pada diri seseorang antara Tauhid dan Syirik. Jika ada tauhid.. maka Syirik akan hilang, jika ada Syirik.. maka syirik akan hilang.. Begitu juga orang.. kalau orang itu musyrik.. maka dia bukan muslim, kalau dia muslim, maka dia bukan seorang musyrik.

Ritual Syirik oleh orang-orang musyrik.

Engkau mungkin akan melihat kebanyakan dari mereka akan hidup sejahtera dalam pandangan mata kita. Engkau akan melihat betapa enak, betapa nyaman terhadap apa yang  mereka lakukan selama ini.. Tetapi mereka sedang mendapat siksa hati. Siksa hati ini akan menerpurukkan seseorang pada cahaya kebenaran, pada cahaya yang dapat menuntunya ke jalan yang benar. Siksa hati ini membuat pelakunya akan merasa nyaman dengan kehidupan dunianya dan tidak mempedulikan keadaannya di akhirat kelak. Itulah yang perlu kita ketahui. Alloh Swt. menyiksa hatinya dan membiarkanya tergelimang dalam kesesatan dalam waktu yang singkat di dunia ini. Tetapi kelak.,.. setelah tiba waktunya mereka berpisah dengan kehidupan dunia ini. dan berganti dengan kehidupan akhirat.. barulah yang berlaku siksa fisik....

Acara Bodoh Jamasan Kyai Upas
Siksa hati itu diberikan kepada orang musyrik dan orang kafir yang dapat menerpurukkan hatinya di dunia ini sehingga kondisi yang akut dari akibat ini adalah mereka tidaklah mengingat Alloh Swt. melainkan sedikit sekali. Sedangkan kelak mereka yang melakukan kesyirikan dan kekafiran kelak engkau pasti akan menjumpai siksa fisik di Akhirat.
Banyak warga yang terjebak dengan acara kesyirikan ynng dibungkus dengan indah atas nama pelestarian kebudayaan atau atas nama kesenian. Mengapa demikian.. apakah kiranya orang-orang yang menyimpang dari ajaran yang benar dari Al Qur'an dan Al Hadits mereka itu lupa dengan statusnya di saat mereka melihat KTP nya. Kalau engkau sadar bukan hanya tulisan saja.. maka engkau tentu melihat sesuatu atas dasar Al Qur'an dan Al Hadits, bukan atas dasar pelestarian budaya.. Ingat.. ini merupakan himbauan kepada anda yang masih terlibat dengan acara syirik ini... untuk segera meninggalkanya.
Engkau akan mengetahui bagaimanakah jawaban mereka jika mereka diingatkan dengan Al Qur'an dan Al Hadits?

Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Alloh.” Mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami.” “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?
[QS. Al-Baqarah (2): 170]
Sudahlah.. jangan berfikir secara kerdil bahwa mungkin seseorang akan berfikir dan menertawakan cerita yang mungkin pernah mereka dengan perihal suatu berhala yang dihancurkan oleh Nabi Ibrahim. Ingat.. jika kalian menertawakan itu.. atas ilmu yang engkau ketahui tentang berhala dalam kisah yang pernah diriwayatkan kepadamu... Tetapi engkau meninggalkan realitas yang ada pada sekarang ini.. Berhala itu sekarang ini adalah Tombak yang mereka anggap dapat mendatangkan manfaat maupun Madhorot. Tombak itu menjadi illah selain Alloh Swt.

Ini sungguh acara Kesyrikan yang kian mendekatkan pelakukanya pada ke kafiran.. maka tinggalkan acara tersebut.. tinggalkan membantu memplokamirkan acara tersebut sebagai wujud pelestarian budaya baik dengan lisan, tulisan, maupun hati.

Simak Tulisan di bawah ini... untuk lebih memantapkan anda dalam berfikir tentang Tauhid dan Syirik, tentang Muslim dan Musyrik.. tulisan ini saya ambil dari millahibrahim.wordpress.com.


Banyak orang mengetahui terjemahannya tapi tidak mengetahui maknanya, jika orang yang pernah mengkaji tauhid mengartikannya: “tidak ada tuhan yang berhak diibadati selain Alloh”, sedangkan orang yang mengetahui sebatas terjemahannya mengatakan: “Tidak ada Tuhan selain Alloh”. Sedangkan maknanya adalah harus mengetahu hakikat uluhiyyah dan ubudiyyah, hakikat ibadah yang hanya boleh ditujukan kepada Alloh, sehingga ketika orang mengucapkan Laa ilaaha illallaah itu maka dia berada di atas ilmu, yaitu mengetahui apa yang harus dia tinggalkan dan apa yang harus dia lakukan.
Syaikh Muhammad Ibnu Abdil Wahhab rahimahullah menjelaskan bahwa Laa ilaaha illallaah menuntut orang muslim dari menafikan empat hal, yaitu: 
  • Arbab, 
  • Alihah, 
  • Andad dan 
  • Thaghut. 


Dan berikut ini adalah penjelasannya:
a.  Alihah
Alihah adalah kata jamak dari ilah yang artinya tuhan. Syaikh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab rahimahullah mengatakan secara khusus tentang definisi ilah atau tuhan ini: “Sesuatu yang engkau tuju dengan suatu hal dalam rangka tolak bala atau meminta manfaat”.
  • Contoh: Batu besar… batu dituju oleh orang dengan suatu hal (yaitu sesajian atau yang sejenisnya), berarti batu itu dituju oleh orang dengan maksud meminta manfaat atau meminta dijauhkan dari bala (bencana). Maka di sini batu itu telah menjadi ilah selain Alloh atau telah dipertuhankan selain Alloh.
  • Contoh: Pohon besar… orang datang ke pohon itu dengan membawa sesajian atau berupa sembelihan atau yang semisalnya. Maka ini pasti ada maksudnya, karena tidak mungkin orang membawa atau menyimpan sesaji-sesajian di pohon tersebut tanpa ada maksud, sedang ini tidak akan lepas dari dua hal: minta untuk penolakan bala atau minta manfaat. Ini berarti pohon tersebut telah diperlakukan sebagai ilah (tuhan) selain Alloh oleh orang tersebut.
  • Contoh: Kuburan… ia di tuju oleh orang dengan suatu permintaan, dan ini tidak akan lepas dari dua hal, jika tidak meminta manfaat maka ia minta ditolakkan dari bala, ketika orang datang ke kuburan yang dikeramatkan itu maka berarti dia telah menjadikan kuburan tersebut sebagai ilah (tuhan) selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala.
  • Contoh: Jin… ketika orang mau membangun sebuah rumah, kemudian ada yang mengatakan bahwa tanah atau daerah yang akan dipakai untuk membangun rumah tersebut ada “penunggunya”, lalu orang yang membangun rumah tersebut segera membawa sembelihan ayam atau ternak apa saja untuk dikuburkan di tanah tersebut. Berarti di sini, dia menuju ke yang menunggu tersebut (jin) dengan sesuatu hal (tumbal sembelihan) dengan maksud agar ketika menempati rumah tersebut dia tidak diganggu oleh jin si penunggu tersebut… dan contoh lain yang mana antum juga bisa mengetahuinya jika dihubungkan dengan realita.

Jika orang tidak mengetahui bahwa ketika dia membuat tumbal atau sesajian itu adalah bentuk penuhanan selain Allah, atau bentuk mempertuhankan selain Alloh, maka berarti sebenarnya dia belum memahami makna laa ilaaha illallaah, dan jika dia belum memahami makna laa ilaaha illallaah maka dia itu belum muslim.
Oleh karena itu aneh sekali apabila ada orang yang mengudzur para pelaku syirik akbar karena kebodohan, karena justeru di antara syarat laa ilaaha illallaah adalah memahami atau mengetahui makna laa ilaaha illallaah. Sedangkan jika orang melakukan kemusyrikan karena ketidaktahuannya berarti dia belum memahami makna laa ilaaha illallaah, dengan kata lain dia belum merealisasikan salah satu syarat laa ilaaha illallaah, yaitu al ilmu, dan jika demikian maka Islamnya belum sah.

Ini adalah makna Alihah, kata jamak dari ilah yang artinya tuhan-tuhan selain Alloh, yaitu orang dituntut untuk meninggalkan atau berlepas diri dari pada ilah-ilah atau tuhan-tuhan selain Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Dan ketika orang mengucapkan laa ilaaha illallaah akan tetapi dia belum meninggalkan hal-hal tadi maka dia belum mengamalkan laa ilaaha illallaah ini.

b.  Arbab
Arbab adalah kata jamak dari rabb yang artinya pengatur, maka dari itu Alloh disebut Rabbul ‘alamin yang artinya Tuhan Pengatur alam semesta.
Rabb adalah pengatur. Ini berarti berhubungan dengan aturan atau undang-undang. Karena Allah yang menciptakan alam semesta, maka Alloh-lah yang berhak menentukan hukum, baik itu hukum kauni (hukum alam) maupun hukum syar’iy, karena Alloh adalah Rabbul ‘alamin…
Sebagai konsekuensi daripada laa ilaaha illallaah, maka kita harus menafikan rububiyyah (pengaturan) dari selain Allah Subhanahu Wa Ta’ala, tidak ada yang berhak untuk mengatur, tidak ada yang berhak untuk menentukan hukum, aturan, undang-undang selain Alloh, karena Alloh adalah Rabbul ‘alamin…

Ketika sifat ini diberikan kepada selain Alloh, maka ini berarti telah memberikan salah satu sifat Alloh kepada makhluk-Nya. Jadi, orang yang mengklaim bahwa dirinya berhak untuk membuat hukum atau undang-undang maka berarti dirinya itu telah memposisikan dirinya sebagai tuhan. Dan orang yang mengikuti aturan orang yang mengklaim berhak membuat hukum tersebut berarti telah beribadah kepada kepada si arbab (para pengaku tuhan selain Alloh) tersebut.

Kita akan mengetahui makna rabb dari firman Allah Subhanahu Wa Ta’alaberikut ini:
 “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai arbab (tuhan-tuhan) selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) Al Masih putera Maryam, padahal mereka diperintahkan kecuali mereka hanya menyembah Tuhan Yang Esa, tidak ada ilah (Tuhan yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Alloh dari apa yang mereka persekutukan”. (QS. At Taubah: 31)
Dalam ayat ini Alloh memvonis orang Nashrani dengan lima vonis:
1.      Mereka telah mempertuhankan para alim ulama dan para rahib
2.      Mereka telah beribadah kepada selain Allah, yaitu kepada alim ulama dan para rahib
3.      Mereka telah melanggar Laa ilaaha illallaah
4.      Mereka telah musyrik
5.      Para alim ulama dan para rahib itu telah memposisikan dirinya sebagi rabb.

Imam At Tirmidzi meriwayatkan, bahwa ketika ayat ini dibacakan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam di hadapan ‘Adiy Ibnu Hatim (seorang sahabat yang asalnya Nashrani kemudian masuk Islam), ‘Adiy Ibnu Hatim ketika mendengar ayat-ayat ini dengan vonis-vonis tadi, maka ‘Adiy mengatakan : “Kami (orang-orang Nashrani) tidak pernah beribadah kepada alim ulama dan rahib (pendeta) kami”, Jadi maksudnya dalam benak orang-orang Nashrani adalah; kenapa Allah memvonis kami telah mempertuhankan mereka atau kami telah beribadah kepada mereka padahal kami tidak pernah shalat atau sujud atau memohon-mohon kepada mereka. Maka Rasul mengatakan: “Bukankah mereka (alim ulama dan para rahib) menghalalkan apa yang telah Alloh haramkan terus kalian ikut menghalalkannya, dan bukankah mereka telah mengharamkan apa yang Alloh halalkan terus kalian ikut mengharamkannya?”. Lalu ‘Adiy menjawab: “Ya”, Rasul berkata lagi:Itulah bentuk peribadatan  mereka (orang Nashrani) kepada mereka (alim ulama dan para rahib).
Jadi, orang-orang Nashrani merasa bahwa yang namanya ibadah itu adalah shalat, ruku,  sujud, mereka tidak merasa bahwa apa yang mereka lakukan itu adalah sebagai bentuk kemusyrikan, mereka juga tidak menyadari bahwa sikap setuju dan mengikuti dalam pengharaman apa yang telah Alloh halalkan dan penghalalan apa yang Alloh haramkan itu adalah sebagai bentuk kemusyrikan.
Di antara faidah yang bisa diambil dari hadits di atas adalah bahwa vonis MUSYRIK di dalam ayat tersebut bukanlah dengan sebab mereka shalat atau sujud kepada alim ulama dan para rahib mereka, akan tapi dikarenakan ketika alim ulama membuat hukum atau mengaku berhak membuat hukum, terus hukumnya diikuti, ditaati dan di komitmeni oleh orang-orang yang ada di bawahnya, maka Alloh memvonis hal itu sebagai bentuk peribadatan. Jadi yang namanya arbab itu adalah yang membuat hukum selain Alloh atau yang mengaku berwenang membuat hukum selain Alloh Subhanahu Wa Ta’ala.
Arbab adalah tuhan-tuhan pengatur yang membuat hukum selain Alloh, dan dalam surat At Taubah: 31 ini alim ulama dan para rahib adalah mereka yang membuat hukum di samping Alloh ta’ala, kemudian hukum buatannya itu diikuti oleh orang-orang Nashrani tersebut, maka perbuatannya ini (membuat hukum) artinya telah memposisikan dirinya sebagai arbab (tuhan-tuhan pengatur selain Alloh). Sedangkan orang yang mengikuti hukum tersebut atau komitmen untuk mentaatinya dan merujuk kepada hukumnya itu maka Allah memvonisnya sebagai orang-orang yang telah beribadah kepada alim ulama (ahli ilmu) dan para rahib (para pendeta), atau dengan kata lain Alloh memvonisnya sebagai orang musyrik.
Jadi, konsekuensi daripada Laa ilaaha illallaah ini adalah berlepas diri dari segala pembuat hukum selain Allah dan berlepas diri dari setiap hukum selain yang bersumber dari Alloh Subhanahu Wa Ta’ala. Maka jika orang tidak memahami bahwa penyandaran hukum kepada selain Alloh itu adalah termasuk kemusyrikan dan termasuk pelanggaran terhadap Laa ilaaha illallaah berarti keislamannya belum sah.
c.  Andad
Andad adalah kata jamak daripada nidd yang artinya tandingan, maksudnya di sini adalah sesuatu yang memalingkan kamu dari Islam (tauhid), dan ini bisa berbentuk harta, isteri, anak, suku/adat atau tanah air. AllahSubhanahu Wa Ta’ala befirman:
 “Janganlah kamu menjadikan andad selain Allah sedangkan kamu mengetahui”(QS. Al Baqarah [2]: 22)
Contoh: Seorang ayah punya anak yang sakit, dia sudah berobat ke mana-mana, kemudian dia putus asa dan akhirnya karena ada yang menyarankan untuk pergi ke dukun akhirnya dia pergi ke dukun tersebut dan diapun mengikuti apa yang disarankan si dukun itu, maka si anak ini telah menjadi andad bagi si ayah yang menjerumuskannya ke dalam kekafiran, dan ketika dia mengikuti apa yang disarankan si dukun demi kesembuhan anaknya itu, maka berarti dia sudah keluar dari Islam karena sudah melanggar laa ilaaha illallaah.
Contoh: Atau umpamanya orang tahu bahwa demokrasi itu syirik, sumpah untuk loyalitas kepada hukum thaghut itu syirik, akan tetapi karena gaji bulanan dan berbagai tunjangan yang menggiurkan, akhirnya dia mengikrarkan sumpah setia kepada hukum thaghut ini supaya mendapakannya. Ini berarti kecintaan kepada dunia telah memalingkan dia dari tauhid dan Islam, dunia telah menjadi andad bagi dia.
Sebagai konsekuensi daripada laa ilaaha illallaah, maka orang harus menjauhi hal-hal seperti itu, jangan sampai hal tersebut memalingkan orang daripada tauhid…
d. Thaghut
Laa ilaaha illallaah menuntut untuk menafikan dan berlepas diri dari thaghut. Thaghut diambil dari kata thughyan yang artinya melampaui batas.
Batas makhluk adalah beribadah, batas makhluk adalah mengikuti aturan Alloh, batas makhluk adalah memutuskan dengan hukum Alloh, batas makhluk adalah berposisi di batas makhluk, tidak mengklaim atau mengaku mengetahui hal yang ghaib apalagi memposisikan diri sebagai Tuhan atau mengklaim berwenang membuat hukum. Batas makhluk adalah mengajak untuk beribadah kepada Alloh.
Ketika batas ini dilampaui; di mana orang yang seharusnya mengajak untuk beribadah hanya kepada Alloh tapi dia malah mengajak untuk membuat tumbal, sesajian, atau untuk melaksanakan hukum buatan manusia atau untuk mengikuti sistem selain syari’at Alloh atau mengajak untuk menganut idiologi selain ajaran Islam, maka hal itu adalah thaghut.
Begitu juga orang yang seharusnya mengikuti aturan Alloh, tapi dia malah membuat hukum selain hukum yang Alloh turunkan, maka siPembuat hukum itu juga adalah thaghut.
Orang yang seharusnya memutuskan dengan apa yang Alloh turunkan ─karena dia sebagai makhluk Alloh─, akan tetapi dia malah memutuskan dengan selain apa yang Alloh turunkan maka dia juga adalah thaghut.
Alloh menetapkan bahwa pengetahuan terhadap yang ghaib itu hanya milik Allah, akan tetapi ketika orang mengklaim bahwa ia mengetahui hal yang ghaib, maka ia telah memposisikan dirinya sebagai tuhan dan dia telah melampaui batasannya sebagai makhluk, sedangkan konsekuensi daripada laa ilaaha illallaah adalah kita harus menafikan hal-hal tersebut.
Jadi firman Alloh:
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati kecuali Alloh” (Muhammad: 19), adalah penegasan prihal kewajiban untuk mengetahui kandungan makna kalimat tauhid ini, yang mana ini adalah syarat sah baginya, sebagaimana yang disabdakan Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa sallam“Siapa yang mati sedangkan ia mengetahui bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadati selain Alloh, dia pasti masuk surga” (HR Muslim)

9 komentar:

  1. dasarmu opo, iso muni ngono kuwi?

    BalasHapus
  2. ojo seneng nyempitna kuwasane gusti alloh...................
    syirik karo ora kuwi gumantung atine.., ora koo cangkemmu..............

    BalasHapus
    Balasan
    1. Halah halah le, bocah wingi sore, urung tau mati bae omongane koyok kyai, iki budoyone wong jowo, ora usah serik ati, wong jowo tanpo agomo wis mulyo uripe, mulo tanah jowo ora di tumuruni agomo, sebab wong jowo ora tau gegeran karo sapodo padane umat koyok utekmu sing keminter.. sinau disik sing tenanan, golek guru sing lungid ing pambudi, ben ngerti toto kromo ugo tatanan budoyo.....................

      Hapus
  3. budaya dan agama tidak bisa satu mas... jangan di campur aduk... blajar agama yang bener baru tau apaitu syirik yang sebenarnya

    BalasHapus
  4. Lagek iso sisi ae kakean cocot lak laermu ndisiki wali songo gaeo statment ngunu pantes mending jogoen ati lan utekmu cek gak ngilok2no wong lio

    BalasHapus
  5. Sok tau bener sih.
    Bagian mananya yang terlihat sirik.
    Dari pesantren mana lu..
    Anteknya FPI ya....

    BalasHapus
  6. Makanya, belajar agama jangan dari buku doank. apalagi dari internet.
    kalo belajar musti ada gurunya..
    biar ndak keblinger

    BalasHapus
  7. terus lek aku ate nyembah watu, koen ate laopo cok? ini budaya, jangan dikaitkan dengan caramu menyembah tuhan.
    urusan moral dan ketaatan itu urusan pribadi dengan tuhan. bukan urusanmu cok.

    BalasHapus
  8. Semoga kamu selamat ya dek, enggak jadi teroris karena bodoh, degil, buta akal dan nurani dan lebih mencintai kekerasan ajaran pedang dari arab daripada kelembutan toleransi dari ajaran leluhurmu sendiri..

    Kamu, dan semua anak seusiamu yg membaca doa pengharapanku ini..

    Aminkan ya dek...semoga Auwloh SWT mengabulkan _/\_

    BalasHapus