Jumat, 02 November 2012

sejarah singkat singasari

Sejarah Singkat Singhasari

MASA KEKUASAAN KERAJAAN SINGHASARI
  1. 1.      MASA PEMERINTAHAN KEN AROK
Setelah berhasil membunuh Tunggul Ametung dan mengalahkan Raja Kertajaya, Ken Arok menobatkan diri menjadi raja yang bergelar Ranggah Rajasa Sang Amurwabhumi. Dalam menjalankan pemerintahannya, Ken Arok atau Rajasa Sang Amurwabhumi menempatkan ibukota kerajaan di Kutaraja, serta memerintah antara tahun 1222 sampai 1227 Masehi. Menurut Mulyana (1979:91) sebelum dipersunting oleh Ken Arok, Ken Dedes sudah mengandung anak dari Tunggul Ametung yang diberi nama Anusapati. Sedangkan Ken Arok dari perkawinannya dengan Ken Dedes memperoleh tiga orang putra dan seorang putri, yaitu: Mahisa Wonga Teleng, Panji Saprang, Agnibaya, dan Dewi Rimbu. Sedangkan dari istri selir yang bernama Ken Umang, juga memiliki tiga putra dan seorang putri, yaitu: Panji Toh Jaya, Tuan Wregola, dan Dewi Rambi.
Pada saat Ken Arok atau Rajasa Sang Amurwabhumi menobatkan anaknya dari Ken Dedes yang bernama Mahisa Wonga Teleng menjadi raja di Kadhiri. Hal tersebut menimbulkan Anusapati merasa diperlakukan tidak adil, dan dalam hatinya memberontak. Anusapati beranggapan bahwa seharusnya dirinya yang memiliki hak besar pertama dalam pewarisan sebuah kekuasaan, karena merupakan anak yang tertua di antara adik-adiknya yang lain. Kemudian Anusapati mengeluh pada Ibunya tentang hal tersebut. Ken Dedes menceritakan bahwa sebenarnya Anusapati bukan anak dari Rajasa Sang Amurwabhumi, melainkan anak dari Tunggul Ametung yang dibunuh oleh Rajasa Sang Amurwabhumi pada saat belum lahir. Cerita tersebut menimbulkan kemarahan yang besar dibenak Anusapati. Kemudian secara langsung meminta keris Empu Gandring yang pernah digunakan Raja Sang Amurwabhumi untuk membunuh ayahnya yang pada saat itu masih tersimpan di dalam Keraton Tumapel atau Singhasari dan Ken Dedes memberikannya.
Dalam membalaskan dendam ayahnya, Anusapati menyuruh orang pengalasan untuk membunuh Raja Sang Amurwabhumi dengan keris Empu Gandring tersebut. Setelah berhasil membunuh Sang Raja, pengalasan itu langsung bergegas lari untuk memberi laporan kepada Anusapati bahwa Sang Raja telah terbunuh serta mengembaikan keris tersebut. Anusapati sangat bangga mendengarnya dan segera memberikan hadiah kepada pengalasannya. Beberapa waktu kemudian, tindakan pengalasan itu telah diketahui oleh pihak kerajaan, bahwa dirinya yang membunuh Sang Raja Amurwabhumi. Dengan segera pengalasan itu terkena amuk dan Anusapati juga ikut dalam amukan itu, kemudian Anusapati membunuh utusan atau pengalasannya sendiri (Mulyana, 1979:92).
            Rajasa Sang Amurwabhumi meninggal pada tahun 1227 Masehi dan hanya berkuasa di Tumapel atau Singhasari selama lima tahun. Sepeninggal Rajasa Sang Amurwabhumi kekuasaan dipecah menjadi dua, yakni kekuasan di Kediri dibawah pimpinan Mahisa Wonga Teleng, dan Kerajaan Tumapel atau Singhasari dibawah pemerintahan Anusapati.
  1. 2.      MASA PEMERINTAHAN ANUSAPATI
Anusapati memerintah Kerajaan Tumapel atau Singhasari selama dua puluh tahun, yakni antara tahun 1227 sampai 1248 Masehi. Pada awal pemerintahannya berjalan dengan aman dan tentram. Akan tetapi pada tahun 1247 Masehi, anak dari Ken Arok atau Rajasa Sang Amurwabhumi dengan Ken Umang yang bernama Toh Jaya tidak senang melihat kematian ayahandanya dan berjanji akan balas demdam. Anusapati dalam hal itu juga sudah mengetahui dan selalu waspada dengan penjagaan pegawal-pengawalnya. Akan tetapi, pada suatu hari Toh Jaya mengajak Anusapati bermain sabung ayam. Dalam pertemuan itu, Toh Jaya berpura-pura meminjam keris Mpu Gandring kepada Anusapati, dan Anusapati meminjamkannya. Pada saat pertandingan ayam berlangsung, pandangan Anusapati tertuju pada perkelahian ayamnya tanpa memperhatikan kewaspadannya terhadap Toh Jaya. Kesempatan itu digunakan oleh Toh Jaya untuk menghunuskan keris Empu Gandring yang dipegangnya ke tubuh Anusapati serta menikam sampai mati. Kematian Anusapati terjadi pada tahun 1248 Masehi. Kemudian jenazahnya dimuliakan di Candi Kidal (Mulyana, 1979:97).
3. MASA PEMERINTAHAN TOH JAYA
Sepeninggal Anusapati, pada tahun 1248 Masehi, Toh Jaya berhasil naik tahta menjadi Raja Tumapel atau Singhasari. Akan tetapi, masa pemerintahannya tidak berjalan lama. Hal ini disebabkan adanya rasa takut akibat perbuatannya membunuh Anusapati. Toh Jaya beranggapan adanya tokoh yang akan balas dendam kepadanya. Menurut Mulyana (1979:98) pada saat upacara penobatannya, Toh Jaya menaruh curiga terhadap Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka. Kemudian dirinya berbisik kepada para menteri dan abdinya yang bernama Pranaraja. Para menteri dan Pranaraja memberikan nasehat kepada Toh Jaya bahwa Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka sangat membahayakan bagi pelaksanaan pemerintahannya. Nasihat itu menimbulkan kemarahan di dalam diri Toh Jaya, sehingga memanggil Lembu Ampal dan memberinya perintah lewat bisikan supaya membunuh Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka. Dalam perintah tersebut, jika Lembu Ampal tidak berhasil membunuh mereka, maka nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya.
Ternyata bisikan Toh Jaya didengar oleh salah satu pendeta atau Kaum Brahmana yang juga menghadiri acara penobatan itu. Kemudian pendeta tersebut menasihati Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka untuk bersembunyi di rumah Panji Patipati. Dalam mencari Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka, Lembu Ampal tidak berhasil menemukannya. Sehingga dirinya tidak berani menghadap Toh Jaya karena takut akan dibunuhnya. Selanjutnya Lembu Ampal berbalik memihak Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka, serta menceritakan tentang apa yang sebenarnya akan dilakukannya karena perintahah dari Toh Jaya. Kemudian Lembu Ampal bersedia mengambil sumpah setia untuk membuktikan dirinya tidak berkhianat, dan setelah itu dipersilahkan pulang. Setelah itu hasutan Lembu Ampal menyebabkan perselisihan antara regu Rajasa dan regu Sinelir. Karena Toh Jaya akan Menghancurkan kedua belah pihak yang berselisih. Kemudian kepala regu Rajasa dan kepala regu Sinelir juga mencari Rangga Wuni untuk meminta perlindungan dan Ranggawuni memberikan nasihat kepada mereka. Pada saat senja, orang-orang Sinelir maupun Rajasa yang bersenjata lengkap berkumpul dirumah Panji Patipati. Mereka menyiapkan serangan yang akan dilancarkan kepada Toh Jaya. Secara serentak mereka langsung menyerbu istana yang mengakibatkan Toh Jaya lari saat melihat serangan tersebut. Akan tetapi, Toh Jaya terkena tusukan tombak dan tidak dapat berjalan. Setelah keributan itu mereda, pengikut-pengikutnya mencari dan mengungsikannya ke Katang Lumbung dan sampai di Katang Lumbung Toh Jaya meninggal (Mulyana, 1979:99).
  1. 4.    MASA PEMERINTAHAN WISNUWARDHANA
Setelah selamat dari ancaman Toh Jaya, Rangga Wuni dan Mahesa Cempaka dinobatkan sebagai penguasa berikutnya. Hubungan mereka berdua sangat akrab, yang dimulai dari saat bersembunyi karena ancaman Toh Jaya sampai pada masa pemerintahannya. Kemudian Rangga Wuni pada tahun itu juga dinobatkan menjadi Raja Tumapel atau Singhasari yang bergelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Sedangkan Mahesa Cempaka dinobatkan sebagai Ratu Angabhaya(pembantu utama raja) yang bergelar Narasinghamurti. Kitab Negarakertagama dalam Slamet Mulyana (1979:99-102) menceritakan bahwa pemerintahan antara Wisnuwardhana dan Narasinghamurti seperti kerja sama antara Dewa Wisnu dan Dewa Indra. Selain itu, Panji Patipati yang pernah menyelamatkan mereka dari ancaman Toh Jaya diangkat menjadi Dharmadikarana atau hakim tertinggi dalam kerajaan. Hubungan baik antara Panji Patipati dengan Wisnuwardhana dan Narasinghamurti dapat berlangsung baik sampai keturunan mereka. Wisnuwardhana mempunyai seorang anak hasil pernikahannya dengan Permaisuri Waning Hyun yang bernama Kertanegara. Pada tahun 1255 Masehi, Wisnuwardhana masih memerintah di Tumapel sebagai raja agung yang menguasai wilayah Jenggala dan Panjalu. Sedangkan Kertanegara pada tahun 1254 Masehi dinobatkan oleh ayahnya sebagai raja mahkota yang memimpin raja-raja bawahan dan memerintah di Daha atau Kadhiri, serta mengambil nama Abhiseka Sri Kertanegara. Pada penobatan itu, Ibukota Kutaraja baru berganti nama menjadi Singhasari.
            Pada tahun 1268 Masehi, Raja Wisnuwardhana meninggal dan dimuliakan di Candi Jago. Kemudian pemerintahan dilanjutkan oleh Kertanegara yang  pada tahun 1270 Masehi naik tahta menjadi raja agung dan memerintah seperti ayahnya, serta menguasai wilayah Singhasari dan Kadhiri.
  1. 5.    MASA PEMERINTAHAN KERTANEGARA
Setelah berhasil naik tahta pada tahun 1270 Masehi, dalam politiknya Raja Kertanegara memiliki cita-cita memperluas kekuasaannya yang meliputi daerah-daerah di sekitar Kerajaan Singhasari. Langkah pertama yang dilakukannya yaitu menyingkirkan tokoh-tokoh yang mungkin menentang atau menjadi penghalang. Pada saat itu juga terjadi penurunan jabatan dari pembesar-pembesar kerajaan yang menjabat sejak pemerintahan Raja Wisnuwardhana. Karena Prabu Kertanegara ingin segera mengadakan perubahan secara besar-besaran dalam bidang administrasi maupun kegiatan politik ekspansinya. Pejabat yang telah lama mengabdi di kerajaan tidak dapat menyesuaikan diri dengan politik baru yang dijalankan oleh Raja Kertanegara. Hal ini menyebabkan kegelisahan antara para pegawai kerajaan dan rakyat serta menimbulkan kemarahan yang besar kepada mereka yang diturunkan jabatannya. Mereka yang diturunkan jabatannya antara lain: patihnya sendiri yang bernama Kebo Arema atau Raganatha diganti dengan Kebo Tengah atau Aragani. Sedangkan Raganatha dijadikan Adhyaksa atau penasihat raja di Tumapel. Kemudian orang yang kurang dapat dipercaya karena terlalu dekat dengan Kadhiri yang bernama Banak Wide, dijauhkan dengan diberi jabatan sebagai bupati di Sumenep (Madura) dengan gelar Arya Wiraraja. Kemudian terjadi sebuah pemberontakan yang bernama kelana bhayangkara atau cayaraja. Meski pemberontakan itu dapat ditumpas, namun sangat menghambat pelaksanaan gagasan politik yang dijalankan oleh Kertanegara. Karena dalam pengiriman pasukan ke seberang lautan harus tuntas dulu masalah yang terjadi di dalam negeri (Mulyana, 1979:103-104).
Raja Kertanegara tak pernah mendengarkan nasihat dari Raganatha bahwa ekspedisi Pamalayu yang dilaksanakannya itu akan hanya membawa petaka untuk dirinya dan kerajaan. Raja Kertanegara tetap bersikukuh untuk mengirimkan pasukan ke Sumatra. Setelah lima tahun pecahnya pemberontakan tersebut, baru pada tahun 1275 Masehi Raja Kertanegara mengembangkan sayapnya ke Sumatra Tengah dengan mengirimkan pasukan ke sana yang berlangsung sampai tahun 1292 Masehi yang dikenal dengan nama ekspedisi Pamalayu. Hal ini menunjukkan karena yang ingin dikuasai adalah Sumatra tengah pasti kerajaan yang akan ditaklukkan adalah Sriwijaya. Pada ekspedisi Pamalayu, Kertanegara berhasil melemahkan Sriwijaya dan menguasai tanah Melayu. Pengiriman pasukan Singhasari ke Swarnabhumi atau Sumatra hanya bertujuan supaya Raja Mauliwarmadewa yang bersemayam di Dharmasraya yang berpusat di Jambi dan juga penguasa selat Malaka dapat tunduk begitu saja kepada Raja Kertanegara.
Hasil ekspedisi Pamalayu dapat diketahui dari prasasti yang dipahatkan di alas arca Amoghapaca yang didapat dari Sungai Langsat (daerah hulu Batanghari dekat Sijunjung). Soekmono (1973:64-65) menyimpulkan:
pada prasasti itu diterangkan bahwa dalam tahun 1286, atas perintah Maharajadhiraja Sri Kertanegara Wikrama Dharmattunggadewa sejumlah arca Amoghapaca beserta 13 pengikutnya (seperti arca di Candi Jago) dipindahkan dari Bhumi Jawa ke Swarnabhumi (nama Sumatra dulu). Penempatan acra di Darmasraya itu dilakukan dibawah suatu panitia yang terdiri dari 4 orang pegawai tinggi, dan atas hadiah itu rakyat Melayu sangat bergirang hati, terutama rajanya yang bernama Srimat Tribhuwanaraja Mauliwarmmadewa.
Negarakertagama dalam Soekmono (1973:65-66) dapat diketahui bahwa pada tahun 1284 Masehi wilayah Bali dapat ditaklukkan oleh Raja Kertanegara. Wilayah lain yang juga ditaklukkan meliputi: Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya), dan Gurun (Maluku). Termasuk wilayah yang berada dalam lingkungan Kerajaan Singhasari. Selain itu, Raja Kertanegara juga mengadakan hubungan politik dengan penguasa dari Kerajaan Campa di Kamboja yang bernama Raja Simhawarman III, di mana Raja Simhawarman III mempunyai dua orang istri. Seorang diantaranya adalah adik dari Raja Kertanegara yang bernama Tapasi. Karena menurut Prasasti Po Sah(di Hindia Belakang), Tapasi berasal dari Jawa. Pada saat Kerajaan Campa diserang oleh Kerajaan Annam, Tapasi melarikan diri ke Jawa.
Ekspedisi Pamalayu yang dilakukan oleh Raja Kertanegara tak selamanya berdampak baik. Keruntuhan Kerajaan Singhasari di bawah pemerintahan Raja Kertanegara disebabkan penguasa lebih memperhatikan politik luar negerinya, yaitu dalam ekspedisi Pamalayu dan menaklukkan wilayah-wilayah di Nusantara. Sehingga Raja Kertanegara tidak tahu adanya serangan musuh dari belakang. Kejadian dengan Tiongkok dan perginya pasukan Singhasari ke Sumatra yang sampai sekian lama belum kembali dimanfaatkan oleh mantan pembesar-pembesar Kerajaan Singhasari yang dulu diturunkan atau dipecat dari jabatannya. Mereka memanfaatkan situasi dan kondisi ini untuk melampiaskan kemarahannya.
 Ternyata apa yang pernah menjadi nasihat dari Raganatha telah terjadi. Slamet Mulyana (1979:105-107) Pada saat itu mantan pegawai bernama Wiraraja mengirimkan surat kepada raja bawahan Singhasari yang berkuasa di Kediri bernama Jayakatwang untuk menggulingkan kekuasaan Kertanegara. Jayakatwang sebenarnya adalah kemenakan Raja Seminingrat, jadi masih saudara sepupu dari Kertanegara. Sedangkan Wiraraja adalah mantan pejabat Singhasari yang pada saat itu diberi kekuasaan oleh Kertanegara menjadi bupati di Sumenep (Madura). Surat Wiraraja itu berisi,
bahwa Singhasari dalam keadaan kosong, dan tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan, Raganatha adalah satu-satunya pembesar tetapi Ia sudah tua-renta. Meski demikian Prabu Kertanegara segan untuk menyadari hal itu. Selain itu, Prabu Kertanegara juga segan untuk mengakui kekuasaan Kaisar Kubilai Khan dengan mencacat dahi seorang utusan kaisar dari Tiongkok itu yang bernama Meng Khi, setelah itu disuruhnya pulang. 
Setelah membaca surat dari Wiraraja, Jayakatwang bertanya kepada utusan pembawa surat itu yang bernama Wirondaya tentang kondisi kerajaan Singhasari, maka Wirondana menjawabnya: ”Bahwa semua rakyat keberatan dengan pemerintahan Kertanegara, dan semua pegawai istana digantikan dengan tokoh-tokoh baru, sekaligus nasihat dari Raganatha tidak pernah didengarkan oleh Kertanegara.” Kemudian Jayakatwang menanyakan  pendapat  kepada Patih Mahisa Mundarang, dan kemudian dijawabnya: “Bahwa pendahulu hamba yang bernama Prabu Dandang Gendis atau Kertajaya binasa atas pemberontakan pendiri Kerajaan Singhasari yang bergelar Raja Rajasa. Prabu Kertajaya beserta bala tentaranya musnah karena tindakan Ken Arok. Maka hamba minta padukalah yang mempunyai kewajiban membangun kembali kerajaan Kediri dan membalas kekalahan Prabu Kertajaya.”
Setelah membaca surat dari Wiraraja serta nasihat dari Wirondaya dan Patih Mahisa Mundarang. Pada tahun 1292 Masehi, atas nasehat tersebut meletuslah sebuah serangan yang dilancarkan oleh Jayakatwang terhadap Singhasari yang berasal dari dua jalur yang berlawanan, yakni melalui jalan utara tentara Jayakatwang meski tidak begitu kuat, tetapi mereka mengacau sepanjang jalan dan menimbulkan kegaduhan di daerah Ibukota Kerajaan Singhasari. Sedangkan melalui jalan selatan pasukan induk bergerak secara diam-diam. Prabu Kertanegara mengira serangan hanya datang dari utara saja, Maka hanya mengerahkan kedua menantunya yang bernama Raden Wijaya dan Arddharaja. Arddharaja adalah anak kandung dari Jayakatwang. Jadi antara Kertanegara dan Jayakatwang sebenarnya hubungannya adalah besan. Dengan mengirimkan kedua menantunya itu, pasukan Kediri yang menyerang dari sebelah utara berhasil dipukul mundur dan terus dikejar. Akan tetapi, pasukan yang bergerak dan menyerang dari selatan berhasil masuk ke dalam kota dan keraton Singhasari untuk melakukan serangan, sehingga Raja Kertanegara beserta mantan patihnya yang bernama Raganatha dan pendeta-pendeta terkemuka yang sedang mengadakan upacara Tantayana di halaman Candi Singhasari, semuanya ikut terbunuh dalam serangan tersebut.
Dari keterangan di atas bagian terpenting adalah Nama Singhasari ternyata baru digunakan pada saat Sri Kertanagara di angkat sebagai Raja Bawahan(Yuwaraja) di wilayah Kadhiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar