Senin, 26 November 2012

pesantren dari masa ke masa


Masa awal Awal kelahiran pesantren bermula dari datangnya seorang waliyullah, Sunan Maulana Malik Ibrahim ke tanah jawa, tepatnya daerah gresik. Di sana, beliau berdakwah, mengurai makna-makna al-qur’an sehingga bisa dipaham masyarakat awam. Karena kesederhanaan dan kepintaran beliau mengambil hati masyarakat yang waktu itu masih berbudaya Hindu, sedikit demi sedikit pengikut beliau bertambah. Bahkan, sebagian dari mereka datang dari daerah yang cukup jauh dari kediaman sang sunan. Walhasil, beliau, sunan Maulana Malik Ibrahim, membuat beberapa gothakan (kamar) sebagai tempat menginap bagi mereka. Namun, menurut sumber lain, pesantren adalah hasil perjuangan dari raden rahmat (sunan Ampel) yang waktu itu mendirikan pondokan bagi murid-muridnya (baca: santri) yang berasal dari berbagai daerah, termasuk raden paku, putra bangsawan dari kerajaan Blambangan, Banyuwangi, yang kemudian lebih dikenal dengan sunan Giri. Setelah beberapa tahun mendalami Islam di Ampel,santri-santri beliau kembali ke daerahnya masing-masing dan mulai ikut mensyi’arkan islam, tentunya dengan ciri khas yang diambil dari kepribadian Sunan Ampel, penuh kesederhanaan dan tanpa sedikitpun menggunakan kekerasan dan paksaan. Dari sanalah pesantren kemudian berkembang dan terus mengalami kemajuan seiring Islam yang menguak, muncul dan menyebar begitu pesat di Indonesia. Adapun istilah pesantren sendiri berasal dari bahasa sansekerta yang memperoleh wujud dan pengertian tersendiri dalam bahasa Indonesia. Asal kata san berarti orang baik (laki-laki) disambung tra berarti suka menolong, santra berarti orang baik baik yang suka menolong. Pesantren berarti tempat untuk membina manusia menjadi orang baik. Sementara itu, HA Timur Jailani memberikan batasan pesantren adalah gabungan dari berbagai kata pondok dan pesantren. Istilah pesantren menurut beliau diangkat dari kata santri yang berarti murid, dan santri yang berarti huruf, sebab dalam pesantren inilah mula-mula santri mengenal huruf. Sedang istilah pondok berasal dari kata funduk (dalam bahasa Arab) mempunyai arti rumah penginapan atau hotel. Masa perjuangan Terlepas dari kesimpangsiuran asal muasal pesantren di bumi nusantara, pesantren dalam perkembangannya yang lebih jauh telah memberikan begitu banyak jasa bagi bangsa. Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia dikumandangkan, peran psikologi pesantren telah meng-empati lubuk hati para syuhada’ untuk berjuang di zaman penjajahan. Sebut saja Sultan Agung (Mataram), Sultan Ageng Tirtoyoso (Banten), Sultan Hasanuddin yang mendapat laqob Ayam Jantan dari Timur, sebuah bentuk pengakuan terhadap keberaniannya terhadap penjajah waktu itu (Belanda). Adalah juga Pangeran Diponegoro membumihanguskan markas Belanda, tanpa kenal lelah bergerilya demi nusa, sehingga begitu mengilhami para kawula Jawa untuk melawan kekuasaan kolonial yang begitu sadis terhadap mereka. Di masa-masa perjuangan menuju gerbang kemerdekaan, pesantren di hampir seluruh Indonesia (Hindia waktu itu) dengan sigap melatih para santrinya agar mempunyai jiwa-jiwa patriotisme untuk membela bangsa. Kiai Mahrus Ali misalnya. Pengasuh ponpes Lirboyo, Kediri pada masa generasi kedua ini pernah menjadi anggota kamikaze negara Jepang. Akan tetapi, begitu beliau lolos dari sekapan Nippon, beliau segera kembali ke Lirboyo dan beraktifitas seperti biasa. Namun, tepat ketika pekik kemerdekaan mengguncang Indonesia, beliau segera memimpin santri untuk ikut serta bersama TKR (Tentara Keamanan Rakyat) melucuti tentara Jepang. Tak selesai di situ, peristiwa sepuluh November dan agresi II Belanda pun tak luput dari campur tangan beliau dan santri-santrinya. Memasuki era 70-an, pesantren mengalami perkembangan signifikan. Setidaknya, dalam segi kuantitas, pesantren mengalami perkembangan luar biasa dan menakjubkan, baik di wilayah rural (pedesaan), sub-urban (pinggiran kota), maupun urban (perkotaan). Data Departemen agama menyebutkan pada 1977 jumlah pesantren masih sekitar 4.195 buah dengan jumlah santri sekitar 677.394 orang. Jumlah ini mengalami peningkatan berarti pada tahun 1985, di mana pesantren berjumlah sekitar 6.239 buah dengan jumlah santri sekitar 1.084.801 orang. Dua dasawarsa kemudian 1997, Depag mencatat jumlah pesantren sudah mencapai kenaikan mencapai 224% atau 9.388 buah dan kenaikan jumlah santri mencapai 261% atau 1.770.768 orang. Data terakhir Depag tahun 2001 menunjukan jumlah pesantren seluruh Indonesia sudah mencapai 11.312 buah dengan santri sebanyak 2.737.805 orang. masa suram larangan pemerintah, kontaminasi pemerintah, berkembang (lagi) di anggap kaku Sebenarnya, tujuan pesantren sejak berdirinya tak lain adalah membentuk pemuda-pemudi menjadi seseorang yang high-class person dalam bidang agama, dalam istilah lain “bakal Ulama”. Dengan berbekal ilmu Fiqih, bahasa arab, ilmu hadist, tafisr, dan sebagainya, yang didapat dari kitab-kitab kuning, mereka, para santri. Diharapkan dapat menjadi seorang yang mumpuni dalam masalah agama di lingkungan masyarakatnya kelak, sehingga berbagai masalah keagamaan yang timbul dalam keseharian masyarakat sekitar dapat teratasi oleh mereka. Ada dua : Salaf Khalaf Keemasan KH Wahid Hasyim Apa yang bisa dipertahankan di era post modern ini ? so, akankah kembali ke khittah ? Karena itu, sejak lima dasawarsa terakhir diskursus diseputar pesantren menunjukkan perkembangkan yang cukup pesat. Hal ini tercermin dari berbagai focus wacana, kajian dan penelitian para ahli, terutama setelah kian diakuinya kontribusi dan peran pesantren yang bukan saja sebagai “sub kultur” (untuk menunjuk kepada lembaga yang bertipologi unik dan menyimpang dari dari pola kehidupan umum di negeri ini) sebagaimana disinyalir Abdurrahman Wahid (1984 : 32) Tetapi juga sebagai “institusi kultural” (untuk menggambarkan sebuah pendidikan yang punya karakter tersendiri sekaligus membuka diri terhadap hegemoni eksternal). sebagaimana ditegaskan oleh Hadi Mulyo (1985 : 71). Dikatakan unik, karena pesantren memiliki karakteristik tersendiri yang khas yang hingga saat ini menunjukkan kemampuannya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan kemajemukan masalah yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, Ia telah memberikan andil yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan Bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat. Menurut Rahim (2001 : 28), pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tertua yang melekat dalam perjalanan kehidupan Indonesia sejak ratusan tahun yang silam, ia adalah lembaga pendidikan yang dapat dikategorikan sebagai lembaga unik dan punya karakteristik tersendiri yang khas, sehingga saat ini menunjukkan kapabilitasnya yang cemerlang melewati berbagai episode zaman dengan pluralitas polemik yang dihadapinya. Bahkan dalam perjalanan sejarahnya, pesantren telah banyak memberikan andil dan kontribusi yang sangat besar dalam ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa dan memberikan pencerahan terhadap masyarakat serta dapat menghasilkan komunitas intelektual yang setaraf dengan sekolah gubernemen. Oleh karena itu tak mengherankan bila pakar pendidikan sekalas Ki Hajar Dewantoro dan Dr. Soetomo pernah mencita citakan model system pendidikan pesantren sebagai model pendidikan Nasional. Bagi mereka model pendidikan pesantren merupakan kreasi cerdas budaya Indonesia Melihat fenomena yang terjadi pada saat sekarang ini banyak kalangan yang mulai melihat sistem pendidikan pesantren sebagai salah satu solusi untuk terwujudnya produk pendidikan yang tidak saja cerdik, pandai, lihai, tetapi juga berhati mulia dan berakhlakul karimah. Hal tersebut dapat dimengerti karena pesantren memiliki karakteristik yang memungkinkan tercapainya tujuan yang dimaksud. Baru (Masyhud, 2003: 4) Pesantren adalah salah satu pendidikan Islam di Indonesia yang mempunyai ciri-ciri khas tersendiri. Definisi pesantren sendiri mempunyai pengertian yang bervariasi, tetapi pada hakekatnya mengandung pengertian yang sama. Akan tetapi pondok di Indonesia khususnya di pulau jawa lebih mirip dengan pemondokan dalam lingkungan padepokan, yaitu perumahan sederhana yang dipetak-petak dalam bentuk kamar-kamar yang merupakan asrama bagi santri. Selanjutnya Zamaksari Dhofir memberikan batasan tentang pondok pesantren yakni sebagai asrama-asrama para santri yang disebut pondok atau tempat tinggal terbuat dari bambu, atau barangkali berasal dari kata funduk atau berarti hotel atau asrama. Perkataan pesantren berasal dari kata santri yang mendapat awalan pe dan akhiran an yang berarti tempat tinggal para santri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar