Jumat, 09 November 2012

Asal usul Bondan Kejawen atau Lembu Peteng (dan TRAH Keturunannya) 9. Pageran Pringgoloyo (mataram)

Asal usul Bondan Kejawen  atau Lembu Peteng 
(dan TRAH Keturunannya)
9. Pageran Pringgoloyo (mataram) menurunkan

Pada masa kekuasaan kesultanan Pajang, Desa Taman masih berupa hutan belantara, tetapi setelah ibukota Kabupaten Madiun di Wonorejo hancur akibat peperangan melawan Mataram pada tahun 1590, Bupati Pangeran Adipati Pringgoloyo (pengganti Raden Ayu Retno Djumilah), merencanakan membangun istana kabupaten di hutan Taman, di daerah ini terdapat rawa-rawa yang luas dan berair bersih seperti telaga (sekarang disebut ”Ngrowo”).

Pada masa kekuasaan Kasunanan Kartasura. Sekitar tahun 1703, Raden Ayu Puger , istri Susuhunan Paku Buwono I yang berasal dari Madiun, berniat membangun Taman di Daerah Ngrowo, sebagai Tamansari (taman wisata), dengan adanya rencana itu maka daerah ini kemudian disebut ”Taman” , sejak itu pula daerah Taman diberi kebebasan dari kerja rodi, tidak dipungut pajak, tetapi wajib merawat taman yang akan di bangun.

Tahun 1725 ketika yang berkuasa di Madiun Pangeran Mangkudipuro, di Taman didirikan Makam keluarga dan sebuah masjid untuk pengembangan Agama Islam di wilayah Kabupaten Madiun. 

Pada tahun 1784, Bupati  Madiun Pangeran Raden Ronggo Prawirodirjo I wafat, oleh iparnya yaitu, Sultan Hamengku Buwono I, makam Taman yang sudah dipersiapkan sebelumnya oleh Bupati Mangkudipuro ( lawan politiknya) ditetapkan sebagai makam kerabat beliau.
Begitu seterusnya,  ada 13 Bupati Madiun yang dimakamkan di Taman, yaitu : Ronggo Prawirodirjo I, Ronggo Prawirodirjo II, Pangeran Mangkudipuro, Pangeran Dipokusumo, Tumenggung Tirtoprodjo, Ronggo Prawirodiningrat, Ario Notodiningrat, Adipati Sosronegoro, Tumenggung Sosrodiningrat, Ario Brotodiningrat, Tumenggung Kusnodiningrat, Tumenggung Ronggo Kusmen dan Tumenggung Ronggo Kusnindar. Orang menyebut Makam Taman adalah Makam Karanggan (makam keluarga Ronggo) sejak saat itu pula Desa Perdikan Taman di kukuhkan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono I, dengan piagam yang ditulis dengan huruf Arab Jawa (pegon) dengan tinta kuning emas, Pemimpin desa Taman bergelar ”Kyai” yang berkuasa penuh mengelola desa.

Pemimpin Desa Perdikan Taman (Kyai) diberi tanggung jawab untuk merawat Makam Taman dengan biaya dari hasil pertanian desa setempat. Hingga sekarang ada sebelas kyai yang menjabat sebagai Kepala Pemerintahan Desa Perdikan Taman, yaitu : Kyai Misbach, Kyai Ageng Moch. Kalifah, Kyai Moch Rifangi, Kyai Donopuro I, Kyai Benu, Kyai Surat, Kyai Donopuro II, Kyai Imam Ngulomo, kyai tirto Prawiro, Kyai Raden Kabul Umar, Kyai Banuarli.

10. Raden Ngabehi Bahurekso menurunkan


Kyai Ngabehi Bahurekso menurut sastra lisan
Ki Ageng Cempaluk yang juga punya nama Ki Ageng Joyo Singo atau Ki Ageng Ngerang, adalah seorang prajurit pilih tanding Kerajaan Pajang dan Mataram. Namun, ada keterangan lagi bahwa Ki Ageng Cempaluk adalah ayah dari Joyosingo.
Nama Ki Ageng Ngerang yang menjadi julukannya bisa dipahami bila Ki Ageng Cempaluk masih ada hubungannya dengan Ki Ageng Bondan Kejawan atau Lembu Peteng, putera Prabu Brawijaya dari Majapahit, dari keturunan ibu.
Sebagaimana disebut dalam cerita tutur ataupun sejarh rakyat, seorang tokoh biasanya dipanggil dengan memakai panggilan nama leluhurnya bila yang bersangkutan memiliki sifat-sifat yang sama, yang disebut "nama nunggak semi". Nama Ki Ageng Ngerang tokoh tua seangkatan Ki Getas Pendowo, ayah Ki Ageng Selo yang menurunkan Ki Ageng Ngenis atau Henis dan berputera Ki Ageng Pemanahan, ayahanda Sultan Mataram pertama, Senopati Sutowijoyo
.
Seperti disebut dalam buku Babad Tanah Jawi, diterangkan sebagai berikut:

"Prabu Brawijaya mempunyai istri (selir) bernma puteri wandan, berputera laki-laki bernama Raden Bondan Kejawan alias Bondan Surati alias Lembu Peteng yang kawin dengan Puteri Nawangsih puteri Ki Ageng Tarub, berputera dua orang, Ki Getas Pendowo yang berputera Ki Ageng Selo. Anak Ki Bondan Kejawan yang satunya, seorang puteri yang dikawinkan dengan Ki Ageng Ngerang. Jadi hubungan antara Ki Ageng Getas Pendowo dengan Ki Ageng Ngerang adalah saudara ipar.
Selanjutnya dengan disebutnya nama Ki Ageng Ngerang, mengingatkan pada tiga tokoh besar bersaudara seperguruan, yaitu Ki Ageng Butuh, Ki Ageng Tingkir dan ki Ageng Ngerang. Oleh cerita tutur, tokoh Ki Ageng Ngerang ini tidak tertutup kemungkinan merupakan leluhur Ki Ageng Cempaluk, ayah Joko bahu, yang kemudian hari bernama Tumengung Bahurekso.

Sedangkan dalam buku Babad Tanah Jawi diterangkan bahwa: Ki Ageng Selo mempunyai anak enam putri dan satu orang putra, namanya Ki Ageng Ngenis, berputera Ki Ageng Pemanahan, berputera Raden Pangeran Bagus, yang tidak lain Sutowijoyo, Panembahan Senopati.

Catatan Hermannus Johannes de Graaf yang mereferensi dari buku Babad Tanah Jawi itu benar, maka Jaka Bahu atau Tumenggung Bahurekso adalah masih ad hubungan keluarga menyamping trah Mataram. Dengan kata lain Bahurekso memang bangsawan Mataram, hanya saja ia berasal dari pihak ibu.

Sedangkan menurut Amien Budiman, Jaka Bahu sebutan lainnya adalah Ki Bahu, adalah sahabat dekat atau orang yang dipercaya oleh Pangeran Benowo. Jaka Bahu lah yang mendampingi Pangeran Benowo mulai dari Pajang, kemudian pindah kek Jipang dan selanjutnya mengembara hingga ke Kendal dan Parakan. Oleh Sunan atau Pangeran Benowo, Ki Bahi diserahkan pada Panembahan Senopati di Mataram sebagai ganti atau wakil dan atas nama Pangeran Benowo. Bila Panembahan Senopati ada keperluan dengannya, maka Ki Bahu lah yang menjadi wakilnya, karena memang nenek moyang Ki Bahu masih ada hubungannya dengan nenek moyang Mataram. Dengan demikian kedekatan Ki Bahu dengan Pangeran Benowo itu lebih berdasar pada kesinambungan hubungan erat nenek moyangnya, yaitu antara Ki Ageng Ngerang dengan Ki Ageng Pengging.
Baik Ki Ageng Cempaluk ataupun Jaka Bahu memiliki hubungan sangat dekat dengan Panembahan Senopati Ing Alogo Sayidin Panotogomo Sultan Mataram Sutowijoyo maupun Mahapatih Mataram, Ki Mondoroko, nama kebesaran Ki Juru Martani. Karena drama baktinya kepada kerajaan yang besar dan usianya yang cukup tua, Ki Ageng cempaluk diberikan tanah perdekan (otonomi) di wilayah Kesesi, sekarang masuk Kabupaten Pekalongan. Hidup bersama dua anaknya, Joko Bahu dan seorang lagi sebagai anak angkatnya Anjarwati, dirasakan sebagai anugrah dari Tuhan yang Mahakuasa. Di padepokan itulah ia menghabiskan masa tuanya dengan penuh syukur pada Tuhan. Namun sebagai orang yang telah diberi penghargaan, Ki Ageng cempaluk tetap mencurahkan pikirannya dan sisa-sisa tenaganya untuk Mataram.

Sebagai seorang prajurit yang hidup di dua masa, yaitu masa kerajaan Pajang dan Mataram, dan dikenal sebagai prajurit yang mumpuni dalam bidang kanuragan dan ketataprajaan. Sehingga ia memiliki pewaris yang bisa melanjutkan pengabdiannya pada kerajaan.

Dituturkan, bahwa penguasa Kadipaten Kleyangangan (Sekarang Kecamatan Subah, Batang), Adipati - Pengalasan/Pemajegan - Tumenggung Dipokusumo, berencana meluaskan wilayah kadipatennya ke arah timur, dengan membuka alas roban, untuk areal pertanian dan pemukiman. Adipati Dipokusumo, sadar bahwa membuka alas (hutan) bukan pekerjaan yang mudah dan disadari termasuk pekerjaan yang keras. Sebuah tugas yang sangat keras dan penuh resiko, maka ia meminta bantuan Ki Ageng Cempaluk yang terkenal sakti. Karena usia yang mendekati udzur, maka tugas itu diserahkan pada puteranyan, Jaka Bahu.

Dengan tetap didampingi oleh Adipati Tumenggung Dipokusumo, tugas membuat persawahan dan pemukiman dengan membuka alas (Babat Wono Roban) dilaksanakan dengan baik oleh Jaka Bahu. Atas keberhasilannya itu, pada akhirnya jaka Bahu menjadi kepercayaa Adipati Dipokusumo, yang tentu saja keberhasilan itu dilaporkan pada Sultan Agung Hanyokrokusumo. (dalam buku Bahurekso Tapa, ada nama Jaka Sentanu - yang kemungkinannya satu nama dengan Ki Dipokusumo).

Berhasil membuka hutan Roban, Sultan Agung menginginkan ada penambahan areal persawahan dan pemukiman, dengan cara membuka hutan hutan (alas) Gambiran, sebuah hutan di sebelah barat Kleyangan, yang lebih gawat daripada Roban. Dengan menelusuri sungai Sambong yang lebar dan memanjang dari selatan ke utara, dan selanjutnya menjadi prioritas dan sasaran pertama yang harus dikerjakan.

Dimulai dengan membuat bendungan di sungai itu. Kawasan hutan yang telah dikuasai oleh pendekar keals tinggi, Drubikso, merasa kehidupannya diganggu. Tokoh sakti itu melakukan perlawanan pada Jaka Bahu. Oleh yang punya cerita disebutkan bahwa antara kedua tokoh itu sama-sama memiliki daya tempur yang luar biasa. Drubikso yang punya aji guntur geni berhasil dikalahkan. Drubikso dan Jaka Bahu saling memukul dengan galah atau watang (embat-embatan watang, Jawa). Tempat pertarungan kedua tokoh itu pada akhirnya disebut (berasal dari kata Batangembat-embatan watang).

Hutan gambiran merupakan keberhasilan Jaka Bahu kali kedua, sekarang ini tepatnya di daerah Sambong, Batang. Sedangkan pembahasan taktik dan strategi untuk mengalahkan Drubikso, sekarang bernama Dracik yang berasal dari kata diracik. Dan keberhasilannya membuka hutan Gambiran ini merupakan kado persembahan terhadap tahun pertama pemerintahan Sultan Agung (1613).

Pada akhirnya Sultan Agung mengutus putera Mataram, Ki Mandurorejo, untuk menata kembali daerah Kleyangan sepeninggal Ki Dipokusumo. Dari sinilah awal perkenalan Jaka Bahu dengan Ki Mandurorejo putera Ki Manduronegoro, yang berarti cucu Ki Patih Mondoroko, yang berarti juga masih saudara dekat dengan Sultan Agung, bahkan disebutnya sebagai mertua Sultan Agung.

Seperti disebut dalam sejarah Kabupaten Pekalongan/Batang, Tumenggung Mandurorejo diangkat menjadi Adipati pad tahun 1922. Bila diruntut dengan cerita-cerita di atas, maka sembilan tahun kemudian setelah hutan Gambiran bahkan di atas angka sepuluh tahun setelah alas Roban dibuka menjadi perkampungan oleh Bahurekso, Tumenggung Mandurorejo menduduki Pekalongan/batang sebagai adipati.

Atas jasa-jasanya itu, pada tahun yang tidak berselang lama setelah Sultan Agung dinobatkan sebagai sultan, Jaka Bahu diberi penghargaan atas jasa kerja kerasnya, menjadi Adipati (penguasa)Kendal, dengan pangkat Tumenggung (1614). Tahun penobatan ini memang menjadi perdebatan bahkan belum diyakini. Namun, catatan De Graaf, sejarawan Belanda yang khusus menulis javanologi menyebut bahwa pada tahun 1915, Kendal sudah ada seorang gubernur bernama Bahurekso.

Dengan diangkatnya Tumenggung Bahurekso sebagai penguasa Kadipaten Kendal, maka secara hirarkhi, Kadipaten Kendal di bawah langsung kerajaan Mataram. Sebuah karya yang dihias di daerah sendiri (Kabupaten Batang sekarang ini) sedangkan sebagai penghargaannya menjadi penguasa daerah lain. Sedangkan daerah yang dibangunnya (sebelum menjadi adipati) pada akhirnya bernama Kadipaten Pekalongan (termasuk Batang), oleh Sultan Mataram diberikan kepada Mandurorejo.

Ini artinya bahwa Ki Mandurorejo datang ke daerah itu, tatanan pemerintahan sudah tertata rapi, dan bangunan-bangunan sebagai cikal bakal pemerintahan telah ada. Dengan berdasarkan kepentingan pertahanan kerajaan Mataram, maka oleh Bahurekso dan atas persetujuan Sultan Mataram, menjadikan wilayah Kaliwungu sebagai alternatif yang terbaik sebagai pusat pemerintahan. Sebutan berikutnya Kadipaten kendal di Kaliwungu. Begitu seterusnya hingga 1811, pemerintahan dipindahkan ke kota Kendal seperti sekarang ini.

dalam sejarah Batang sebagai ditulis oleh R. Sunaryo Basuki, ataupun catatan-catatan Amien Budiman, bahurekso memang pernah memerintah Kabupaten Pekalongan sebagai pejabat kerajaan. Selanjutnya oleh R. Sunaryo Basuki juga dituturkan, ketika itu ia menunjuk Raden Tjilik atau Raden Prawiro, seorang ulama masih keturunan ulama Sedayu, Lamongan Jawa Timur, yaitu Sunan Nur atau Sunan Sendang sebagai Ki Ageng di Batang/Ki Ageng Gede Batang. Hanya saja keberadaannya di Pekalongan/Batang sebagai pejabat kerajaan, maka nama Bahureksotidak diabadikan bahkan tercatat sebagai Bupati Pekalongan atau di Batang.

Bila diurut kapan peristiwa itu terjadi, rasanya memang tidak sulit yaiut sebelum tahun 1614. Sebab, Mandurorejo diaingkat sebagi Bupati batang pad hari Senin pon, 8 September 1614 (Jumat Kliwon(?). Hanya saja catatan di Pekalongan menyebutkan bahwa walaupun Mandurorejo menjadi bupati/penguasa di Batang tahun 1614, tetapi di Pekalongan tercatat tahun 1622/1623 Pengeran Mandurorejo dan adiknya (Tumenggung Upasanta) menjadi adipati/penguasa Pekalongan. Kedua daerah itu merupakan hasil kerja keras Bahurekso.

Pekalongan berasal dari  kata "kalong". Cerita tuturnya, di tempat itulah Bahurekso melakukan "topo ngalong", menggantung di pohon dan makannya hanya buah-buahan, seperti kalong, begitu masyarakat menyebut. Usaha bertapa Bahurekso ini sehubungan dengan pekerjaan membuat perkampungan dengan membuka hutan Gambiran.
Tidak berlebihan jika Bahurekso pada akhirnya berhasil membangun tiga daerah pemerintahan sekaligus
11. Raden Panji Derposentono menurunkan
12.Ki Ageng Abdul Imam menurunkan
13. Ki Ageng Nolojoyo/ Dugel Kesambi menurunkan

14 Raden Mas Bagus Harus / Ki Ageng Bashoriyah


Seblunya kita menengok dulu siapa sosok K. basyariah . K,basyariah adalah murid dari k, Mohammad Besari Tegall sari,beliau adalah putra ki ageng Nolojoyo,prongkot,tosanan somoroto ponorogo,yang notaben nya masih keturunan asli dari Mataram.Adapun silsilah K.basyariah sebagai berikut;
1.   Kiageng Sutowijoyo (Mataram)
2.   Raden Mas Jolang (mataram)
3.   Pageran Kajoran( mataram)
4.   Pageran Pringgoloyo (mataram)
5.   Raden Aryo Paduresa
6.   Raden Panji Dreposentono (mataram)
7.   Kiageng Abdul Imam( prongkot)
8.   Kiageng Nolojoyo (prongkot)
9.   Kiageng R.bagus Harun Basyariah
Semasa kecil beliau sudah terlahir d kalagan kiai,beliau mempunyai nama  kecil raden Harun.S dan diberi nama lagi oleh K,tegal sari menjadi Bagus HarunBasyariah,
Ketika beliau mondok di tegal sari dan pada saat itu karto suroo ada pemberontakan tentara kartosuro tidak bias megaman kan kraton sehingga sang sinuwun mintak bantuan dari tegal sari, kemudian K.tegal sari diberi bantuan degan megirimsalah satu santri nya yang bernama Bagus harun Basyariah ,menurut keterangan mbh warni(narasumber)untuk masuk kraton tersebut tidak bias masuk kalau tidak berubah bentuk,akirnya K,basyariah degan seijin Allah menjelmo/ berubah menjadi Kinjeng orang sekarang menyebut nya kecapung,sesampainya di dalam kraton.beliau di kasihtau untuk dimintai bantuan untuk menagkap pemberontak-pemberontak yang masih keluarga kraton itu sendiri yang di pimpin Raden Mas Garendi ,boleh di perangi asal jagan menimbulkan kematian . akirnya K basyariah dulu diberi gaman oleh K tegal sari berupa panah tapi panah tesebut berupa panah tumpul dan diberi tali di ujung busur panah tersebut yang di beri nama  tali Lawe welang ,yang bertujuan apabila dipanah kan bisa  menjirat musuh tanpa harus melukai dan membunuh nya.
Dan alhamdulilah semua pemberontak tersebut bisa ditangkap semuanya dan bisa dihukum.sepulang dari kraton beliau diberi hadiah  seorang putri dan baju senopati,serta tanah sewulan,nama aslinya bukan sewulan tapi alas  cewulan. Karna beliau adalah seorang kiai tidak mau menjadi adipati akirnya sandangan adipati itu dibuang di kedung blang puang di utara sekayu yang berada di desa lengkong sukorjo, ponorogo.dan beliau nitip pasan kepada jin yang menunggu kedung tersebut ;barang siapa keturunan ku besok yang ingin orang yang mempunyai derajat dan pangkat besok wenehono ageman iki menurut kekuatanya sendiri-sendiri .katanya bapak amin (bupati ponorogo) juga pernah nepi disitu dan diberi petunjuk katanya payung yang bernama payung tungul Naga tersebut pas di atas pak amin nepiitu,dan Alhamdulillah beliau seksrag jadi bupati ponorogo.
Dan ketika beliau sudah sepuh( tua) beliau pegen di rawat/ diopeni oleh anak yang pertama yang bernama Nyai Matsantri dan akirnya beliau meninggal di sewulan
Kiai Ageng Basyariyah atau Raden Mas Bagus Harun adalah putra dari Dugel Kesambi (Pangeran Nolojoyo), adipati Ponorogo pada akhir abad ke 17 M di bawah naungan Kerajaan Mataram. Meski diasuh dalam keluarga ningrat, RM Bagus Harun lebih banyak menghabiskan masa mudanya untuk nyantri dan menimba ilmu kepada Kyai Ageng Hasan Besari (Tegalsari, Ponorogo). Kepada gurunya ini, RM Bagus Harun tidak hanya belajar ilmu syariat dan tauhid, namun juga memperdalam tashawuf khususnya ajaran tarekat Naqsabandiyah Syathariyah. Selama berguru kepada KA Hasan Besari, RM Bagus Harun dikenal sebagai murid yang alim, cerdas dan tawadhu. Karena itulah, RM Bagus Harun menjadi murid kesayangannya bahkan sampai diangkat menjadi anak.
Alkisah, saat Mataram dipegang oleh Paku Buwono II, terjadi pemberontakan yang dilakukan oleh RM Gerendi (Pemberontakan Pacinan). Pemberontakan tersebut telah berhasil merebut tahta dan Paku Buwono beserta pengikut setianya mengungsi ke daerah timur. Di tengah pengungsian, Paku Buwono mendapat petunjuk bahwa penolongnya berada di kawasan Ponorogo. Singkat cerita, bertemulah Paku Buwono dengan Hasan Besari bersama Bagus Harun. Atas mandat dari Hasan Besari, Bagus Harun ikut Paku Buwono II ke Kertosuro untuk membantu mengembalikan tahtanya. Dengan linuwih kesaktian yang dimiliki oleh Bagus Harun, akhirnya Paku Buwono II bisa merebut kembali tahtanya.
Atas jasanya tersebut dan setelah mengetahui bahwa Bagus Harun ternyata adalah putra adipati Ponorogo (yang masih memiliki garis keturunan sampai Senopati Sutowijoyo), Paku Bowono II berencana mengangkat Bagus Harun sebagai Adipati Banten. Namun Bagus Harun menolak karena harus kembali mengabdi kepada gurunya di Ponorogo. Sebagai gantinya, Paku Buwono II memberikan songsong (payung kerajaan) dan lampit. Songsong kerajaan merupakan simbol pemberian tanah perdikan. Belakangan Songsong tersebut berbuah tanah perdikan di kawasan Madiun yang kemudian dinamai “Sewulan” oleh Bagus Harun.
Bagus Harun yang kemudian lebih sering dikenal dengan Kiai Ageng Basyariyah kemudian menetap di Sewulan dan mendirikan masjid dan pesantren hingga akhir hayatnya. Makamnya berada di kompleks makam Sewulan di sebelah Barat Masjid Agung Sewulan, tepatnya di cungkup utama. Di cungkup utama tersebut, makam Kiai Ageng Basyariyah diapit oleh putrinya (Nyai Muhammad Santri) dan menantunya (Kiai Muhammad Santri). Ketiga makam tersebut di naungi kain berwarna hijau. Di atasnya terdapat kaligrafi dengan khot berwarna emas dan background hitam. Tepat di depan makam Kiai Ageng Basyariyah terdapat songsong tiga tingkat berwarna hijau nan indah. Songsong ini dihias dengan sepasang naga di bawahnya dan difungsikan sebagai rak sederhana untuk tempat Al Quran dan surat yasin.
Kompleks pemakaman di areal Masjid Agung Sewulan ini nampaknya menjadi pemakaman bagi bani basyariyah. Almarhum KH Abdul Bashit, Pengasuh PP Oro Oro Ombo Madiun yang meninggal beberapa bulan yang lalu rupanya juga anggota bani Basyariyah. Makamnya berjarak beberapa meter sebelah barat dari cungkup. Pemakaman “tua” yang menjadi salah satu situs wisata ziarah di Madiun ini selalu ada yang mengunjungi setiap harinya, terlebih di Bulan ramadhan. Beberapa peziarah dan warga sekitar menyakini bahwa makam ini merupakan makam yang keramat. 
KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) juga memiliki garis darah dengan Kiai Ageng Basyariyah. Ulama yang negarawan dan budayawan tersebut menjadi salah satu keturunan ketujuh dari Kiai Ageng Basyariyah. Nenek Gus Dur (Ibu Nyai Hasyim Asy’ Ary) yang bernama Nafiqoh merupakan salah satu putri dari Kiai Ilyas, putra dari Kiai Raden Mas Buntaro. Kiai Mas Buntaro ini adalah salah satu putra dari Kiai Muhammad Santri sekaligus cucu langsung dari Kiai Ageng Basyariyah. Menurut pangakuan Mbah Mawardi, Gus Dur sempat hidup selama 3 tahun di Sewulan semasa kecil, bersama keluarga besar neneknya. Ketua Takmir Masjid Sewulan ini pernah mengisahkan bahwa Gus Dur adalah sosok yang pandai bergaul dan suka bercanda. Beserta beberapa teman sepermainan, mereka kerap bermain-main di kolam depan Masjid Sewulan. Bahkan kerabat Gus Dur satu ini mengaku punya saksi berupa goresan kecil di pelipis. “Ini merupakan kenang-kenangan waktu dulu bermain dengan Gus Dur di kolam ini”, kenangnya sambil tersenyum.  
RIWAYAT MONDOK DI TEGALSARI PONOROGO
Diceritakan bahwa Kyai Ageng Prungkut Sumoroto mempunyai putra lelaki bernama Bagus Harun (Basjarijah) dan dipondokkan oleh ayahnya di Tegalsari, perlu ikut (nyuwito) sekalian belajar ilmu Agama Islam. Bagus Harun berada di Tegalsari sangat tunduk dan patuh kepada Gurunya dan selalu mengikuti segala perintah. Bila Kyai akan bersantap yang melayani adalah Bagus Harun dan ditunggui sampai selesai bersantap. Begitu pula bila mau mandi, Bagus Harunlah yang menimba air.
Disuatu saat di Tanah Jawa terjadi kegegeran yang sangat mengerikan, yaitu datangnya berandal dari Negeri Cina, merampok dan merampas di Kraton Surakarta.
Hal ini membuat Sang Sinuhun meninggalkan Kraton dan lolos mengungsi ke jurusan timur didampingi Tumenggung Wiratirto di dalam perjalanannya hingga sampai di esa Sawo, Ponorogo.
Karena capai dan lemasnya, kedua pria agung berhenti di lereng gunung Bubuk. Sampai sekarang batu yang pernah diduduki masih ada, berada di sebelah Utara Barat pasar Sawo, Ponorogo. Akan meneruskan perjalanan ke arah timur sudah tidak kuat disebabkan jalan sudah mulai menanjang gunung.
Ketika Sang Sinuhun melihat ada seorang naik pohon kelapa mengambil Nira/Legen, lalu menanyakan kepada Tumenggung : “He, Wirotirto, itu orang naik pohon kelapa kok pakai bumbung segala?” Wirotirto menjawab pertanyaan Sang Sinuhun : “Itu sedang mengambil Legen/Nira (nderes), akan dibikin gula kelapa”. Sang Sinuhun bertanya lagi : “Bolehkah kiranya aku minta legennya untuk diminum?” “Akan saya coba meminta,” Kata Wiratirto. Jadilah Tumenggung Wirotirto minta legen kepada orang yang lagi nderes. Setelah Wirotirto menerima legen terus disampaikan kepada Sang Sinuhun. Setelah Sang Sinuhun selesai minum legen, berkatalah beliau kepada yang memberi legen : “Pak, aku senang sekali atas legen pemberianmu, sungguh berterima kasih aku, mudah-mudahan legenmu oleh Yang Maha Kuasa setelah menjadi gula dijadikan gula yang enak lagi manis sampai turun temurun”. Itulah sebabnya gula kelapa dari desa Sawo enak rasanya, manis dan gurih dan kuning rupanya sehingga tersohor di seluruh daerah Ponorogo.
Kira-kira pukul satu tengah malam, Sang Sinuhun mendengar suatu seperti suara lebah yang sedang kirab (terbang keliling) keluar dari sarangnya, gemuruh karena banyaknya. Bertanya Sinuhun kepada Tumenggung Wirotirto : “Wirotirto, suara apakah itu yang gemuruh ?”. Wirotirto menjawab : “Itu adalah suaranya orang sedang munajad kepada Allah”. “Kalau begitu mari kita datangi mereka, siapa tahu dapat memberikan obat kepada saya!” demikian ajak Sang Sinuhun kepada Tumenggung Wirotirto mendatangi mereka yang sedang munajad.
Adapun yang suaranya gemuruh itu, tidak lain adalah suara Bagus Harun dan Kyai Tegalsari bermunajad, memohon rahmat dan derajat untuk putra cucunya sampai datang kiamat. Setelah Sang Sinuhun bertemu dengan Kyai Ageng Tegalsari kemudian menceritakan dari awal sampai akhir tentang kejadian yang menimpa Negeri Surakarta.
Cerita selanjutnya, Sang Sinuhun menghendaki Kyai Ageng Tegalsari ikut membantu mengusir berandal Cina. Kelak bila dapat berhasil, Sang Sinuhun akan memberikan hadiah, yaitu akan memberi tanah tanpa dikenakan membayar pajak sampai turun temurun.
Kyai Ageng Tegalsari lalu munajad kepada Allah Swt. dengan jalan shalat hajad. Setelah selesai, kemudian berdoa :
“Ya Allah, semoga jadikanlah Negeri ini, menjadi Negeri yang aman dan tentram. Dan semoga Allah memberi rizqi kepada rakyat semua dengan rizqi yang suci lagi yang halal”.
Sesudah berdoa, Kyai Ageng Tegalsari kemudian unjuk bicara : “Gusti Yang Mulia, saya persilahkan kembali, Negeri Kartasura kini sudah aman dan tentram. Prajurit berandal Cina sudah kembali semua, sebab Tanah Jawa kelihatan sempit sekali, percuma akan memerintah Tanah Jawa”. Sang Sinuhun kemudian berkata, “Saya supaya disertai teman Kyai, kalau kembali ke Solo”. Bagus Harun kemudian diperintah Kyai untuk menemani dan menghantar Sang Sinuhun. Pagi harinya sekira pukul 6 pagi, Sang Ratu, Tumenggung Wirotirto dan Bagus Harun berangkat menuju Solo. Sesampainya di desa Srandil mereka berhenti untuk istirahat menghilangkan lelah.
Beberapa saat setelah istirahat, Sang Sinuhun merasa lapar. Kebetulan ada seorang wanita janda yang membawa kemarang (keranjang dari bambu) yang isinya nasi dan sayur berkuah. Sang Sinuhun bertanya kepada Bagus Harun, “Orang itu menggendong apa, Bolehkah saya minta?” “Coba saya Tanya dahulu !” balas Bagus Harun. Ketika ditanya dengan baik-baik, akhirnya nasi dan sayur diberikan. Nasi sayur kemudian disantap Sang Sinuhun. Sesudah selesai bersantap kemudian bertanya : “Desa ini namanya desa apa?” Bagus Harun kemudian menjawab, “Kalau desa ini belum ada namanya”. Sang Sinuhun berkata lagi, “Enaknya dan sebaiknya dinamakan desa Menang saja, sebab hari ini saya sudah Menang dapat mengusir berandal Cina”. Selanjutnya Sang Sinuhun berkata kepada mbok Rondojian – ibu janda, “Saya sangat senang sekali bahwa engkau telah ikhlas memberi nasi yang saya minta. Maka nanti kalau ada waktu, kelak engkau datanglah ke Solo, ini engkau saya beri surat, adapun tanda-tanda rumahku, kalau ada rumah yang mempunyai halaman lebar, yang itulah rumahku”. Di lain waktu mbok Rondo kemudian datang menghadap ke Solo dan dianugrahi Bumi Merdiko sampai sekarang.
Sang Sinuhun dan Bagus Harun melanjutkan perjalanan ke Solo. Sesampainya di Solo langsung menuju masuk di Kraton dengan selamat.
Bagus Harun di Solo terus masuk Masjid Suronatan, untuk sholat hajad mempertegas memohon kepada Allah. Kurang lebih 40 hari lamanya, Kraton Solo dan daerah kekuasaannya dalam keadaan aman dan tentram. Setelah itu Bagus Harun mohon pamit kembali pulang ke Tegalsari. Sang Sinuhun mengizinkan dan memberi hadiah berupa payung kebesaran dan lampit (tikar dibuat dari anyaman belahan rotan), sebagai tanda jasa (pembelaan). Setelah sampai di Tegalsari, Bagus Harun melapor kepada Kyai Ageng Tegalsari bahwa keadaan yang ditemui di Negeri Solo dari awal sampai akhir. Paying dan lampit pemberian dari Sang Sinuhun sebagai anugerah juga diserahkan kepada Kyai Ageng Tegalsari. Tetapi Kyai Ageng Tegalsari tidak mau menerimanya dan berkata kepada Bagus Harun : “Yang dihadiyahi itu engkau, bukan aku, sebab yang menghantarkan ke Solo adalah engkau.” Bagus Harun tidak menjawab sepatah katapun, tetapi setelah waktu malam tidak dapat memejamkan mata, selalu memikirkan masalah itu yang diberi anugerah tersebut dia sendiri atau Kyai Ageng Tegalsari? Lalu yang menjadi keputusan hatinya ialah pada esok harinya berangkat kembali menuju Solo. Sesampainya di kota Solo dan keadaan cuaca sangat panans, maka paying kemudian dibuka dan dipakai terus sampai alun-alun.
Setelah perajurit Kraton Mengetahui kemudian mereka bersiap sedia karena dikira ada Prajurit Cina yang akan masuk ke Kraton. Bagus Harun kemudian dihujani panah dari segala penjuru terkepung rapat, Namun tidak satupun anak panah mengenai badannya.
Untuk menjaga jangan sampai berlarut-larut, Bagus Harun kemudian melemparkan tongkatnya. Dan seketika itu bubarlah prajurit Kraton tunggang langgang dan banyak yang menjadi korban. Sang Sinuhun setelah mendengar kalau prajurit Cina sudah memasuki Kraton, cepat-cepat keluar memasang Kyai Setomo dan Nyai Setomi untuk menanggulangi musuh. Setelah yang masuk ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Bagus Harun sambil berkata, “Oooo, tidak tahu kalau Kyai, saya kira prajurit Cina datang merampok lagi”. Kemudian Sang Sinuhun minta keterangan kejadian seperti itu tadi. Bagus Harun menjawab, sewaktu ia melewati alun-alun memakai payung, dipanahi dari sebelah kanan-kiri sehingga terjadi pertengkaran.
Setelah Bagus Harun menjelaskan kepada Sang Sinuhun maksud kedatangannya, maka Sang Sinuhun menjelaskan bahwa paying dan lampit tersebut sebagai anugerah untuknya dan untuk selama-lamanya.
Setelah jelas dan ternyata kedua barang tersebut untuknya, Bagus Harun kemudian kembali ke Ponorogo lagi.
Ketika perjalanan Bagus Harun sampai di grojogan (dam) Bang Peluwang di desa Nglengkong, Kecamatan Sukorejo Distrik Sumoroto, ia berhenti dan berpikir tentang paying dan lampit, kata hatinya : “Jika paying dan lampit ini kurawat sampai kelak, pasti anak-cucuku nantinya akan mempunyai pikiran sok besar (gemede), mengandalkan perjuangan ayahnya kepada Negeri. Lebih baik kedua barang ini kutitipkan saja di grojokan sini”. Seketika itu paying dan lampit dijeburkan dalam grojokan dan berkata : “Grojogan, saya titip payung dan lampit, kelak bila anak-cucuku pada bertapa kemari, dan kiranya bakal berhasil maksudnya, muncullah menampakkan diri”.
Karenanya anak-cucu Bagus Harun bila mempunyai hajad, banyak yang menjalankan rialat atau bertapa di situ (grojogan Bang Peluwang).
ASAL MUASAL DESA SEWULAN
Sekembalinya Bagus Harun dari Solo, lalu ikut (nyuwito) lagi pada Kyai Ageng Tegalsari. Lama-kelamaan Bagus Harun mempunyai keinginan menjadi orang yang berdiri sendiri lagi mempunyai tanah bukan (babadan) sendiri juga merdeka seperti Tegalsari.
Pada suatu hari Bagus Harun menghadap Kyai Ageng Tegalsari dan menyampaikan keinginan hatinya : “Duhai rama Panembahan, perkenankanlah kami menyampaikan keinginan ke hadapan rama Panembahan”. Kyai Ageng Tegalsari bertanya : “Iya ada Gus, coba haturkan!”. “Saya mempunyai keinginan mempunyai tanah babadan seperti Kyai, lagi pula merdika. Kiranya tanah mana yang dapat saya babad yang dapat saya turunkan kepada anak-cucu?” demikian haturnya Bagus Harun.
Kyai Ageng Tegalsari memberi petunjuk, “Harun, kalau engkau ingin babad tanah, carilah payungmu yang kau buang di grojokan Bang Peluwang dahulu itu, nanti kitari mengikuti hutan, jangan berhenti sebelum ketemu”.
Bagus Harun kemudian berfikir-fikir sejenak di dalam hati, pikirnya bingung, ling lung dan tidak habis fakir.
“Lha payung saya buang di dalam grojokan, jelas saya masih ingat betul, saya kok diperintah Kyai Ageng mencari di dalam hutan, apa ya masuk akal?” demikian kata hati Bagus Harun.
Karena tiada tindakan atau reaksi apa-apa dari Bagus Harun, maka Kyai Ageng berkata, “Lho jangan termangu-mangu dan ling lung Harun, Allah itu mempunyai Kekuasaan Yang Besar, Maha Besar! Kalau engkau ingin segera memiliki tanah babadan, cepat-cepat carilah payungmu sepanjang hutan.
Setelah Bagus Harun mendengar kata-kata Kyai Ageng Tegalsari yang meyakinkan, tanpa menunggu apa-apa ia pun segera berangkat (pepatah Jawa mengatakan “rindik asu digitik” kurang lebih artinya “anjing kalau kena pukul akan lari) melaksanakan perintah Kyai Ageng Tegalsari. Setelah sampai di hutan, dimasukilah hutan sampai berhari-hari dan berbulan-bulan, setelah genap 1000 hari Bagus Harun berada di dalam hutan, ada suatu keanehan. Bagus Harun mencium bau-bauan yang harum dan dari tempat itulah muncullah payung yang berdiri tegak tinggal kerangkanya saja. Bagus Harun mendekati dan ternyata setelah diteliti benar-benar payung tersebut adalah miliknya, terbukti adanya tanda huruf “H” pada gagang payung. Tanda huruf “H” tersebut ia tulis sewaktu akan membuang payung tersebut ke dalam grojogan. Kerangka payung kemudian dibawa pulang dan dihaturkan kepada Kyai Ageng Tegalsari. Dan setelah menerima kerangka payung tersebut Kyai Ageng Tegalsari berkata, “Ya di tempat payung ini engkau ketemukan, dirikanlah sebuah Masjid, dan tempat tersebut beri nama SEWULAN, sebab waktu mencari sampai ketemunya payung ini engkau membutuhkan waktu 1000/sewu (seribu) dina (hari)”.
Maka setelah tempat dimana Masjid berdiri meluas menjadi desa, desanya dinamakan juga desa SEWULAN, sampai sekarang masih ada.

15 Keturunan R. Mas Bagus Harun ( Ki Ageng Bashoriah )

Sengaja Penulis mengambil satu garis keturunan, karena jika di tulis semua butuh waktu yang sangat lama karena jumlahnya sudah ratusan bahkan ribuan , dan memang blog ini di khususkan untuk keluarga agar tidak putus tali silaturihimnya dan bukan untuk kepentingan yang lain, terutama dari garis Keluarga Pondok Pesantren Mojodadi, semoga bisa membawa manfaat dan berkah dalam silaturrohim ini.

      GENERASI KETURUNAN
BONDAN KEJAWEN/ LEMBU PETENG dan NAWANGSIH
( Nawang Sih, anak ke tiga dari KI Ageng  Tarub dan Nawangwulan)
  1. Prabu BRAWIJAYA V Beristri PUTRI WIRING KUNING/ DEWI WANDAN SARI berputra 1 orang laki laki Lembu Peteng, oleh romonya di titipkan untuk di asuh oleh Kiyai AGENG TARUB  yang akhir nya di ambil menantunya.
  2. LEMBU PETENG /Bondan kejawen /Kiageng Tarub II Beristri DEWI NAWANG SIH       ( Putri ke 3 Perkawinan Joko Tarub dan Nawang Wulan yaitu saudari dari Nawang sasi dan Nawang Arum, )  mempunyai anak
2.1.   Ki Ageng Getas Pandowo (Ki Abdulloh)
2.2.   Seorang . Puteri (dinikahkan dengan Ki Ageng Ngerang).
  1. KI AGENG GETASPENDOWO ( Kiyai Abdullah / Ki Ageng Tarub III ) Mempunyai 6 orang Anak  1 laki laki bernama Abdurrohman Susilo
3.1.   Ki Ageng Selo,
3.2.   Nyai Ageng Pakis,
3.3.   Nyai Ageng Purno,
3.4.   Nyai Ageng Wanglu,
3.5.   Nyai Ageng Bokong,
3.6.   Nyai Ageng Adibaya.
  1. KI AGENG SELO ( Kiyai Abdurrohman Susilo ) niikah dengan NYAI BICAK Mempunyai 7 orang anak 1 laki laki bernama Ki Ageng Anis/ Enes
4.1.   Nyai Ageng Lurung Tengah,
4.2.   Nyai Ageng Saba ( Wanasaba ),
4.3.   Nyai Ageng Basri,
4.4.   Nyai Ageng Jati,
4.5.   Nyai Ageng Patanen,
4.6.   Nyai Ageng Pakis Dadu, dan bungsunya putra laki - laki bernama
4.7.   Kyai Ageng Enis.
  1. Kiyai AGENG ANES atau ki Ageng LAWEYAN
  2. Kiyai AGENG PEMANAHAN ( Sopati Ing Ngalogo ) menikah dengan NYAI SABINAH  putri sulung KI AGENG SOBO Berputra
  3. Kiyai AGENG SUTOWIJOYO (Raden Mas Ngabehi Loring Pasar - Mataram)
  4. Raden MAS JOLANG (mataram)
  5. Pageran KAJORAN ( mataram)
  6. Pangeran ARYO PRINGGOLOYO Berputra
  7. Raden BAHUREKSO (kiyahi Bahurekso-Babad Tanah Kendal - Bupati Kendal) Berputra
  8. Pangeran DERPO SENTONO Berputra
  9. Kiyai ABDUL IMAM/ R. MAS ABDUL IMAM (bupati Sumoroto ponorogo)Sumare di pengkot sumoroto ponorogo Berputra
  10. Kiyai NOLOJOYO / DUGEL KESAMBI / Ki AGENG PRONGKOT (bupati Sumoroto ponorogo)Sumare di pengkot sumoroto ponorogo Ber putra
  11. Kiyai  AGENG BAGUS HARUN / KI AGENG BASHORIYAH Sewulan Madiun,   Berputra 9 Orang yaitu :
15.1.      Nyai Muhammad santri
15.2.      Nyai Mahali
15.3.      Nyai mansur Tawangsari Ponorogo
15.4.      Kiyai Raden Mas Tafsiruddin Onggowijoyo Magetan
15.5.      Kiyai Raden Mas Ahmad Ngali Penghulu Kertosono
15.6.      Kiyai Raden Mas Muhammad Suriyyah Selosari dagangan Madiun
15.7.      Kiiyai Mahalli Perdikan winong tulung agung
15.8.      Kiyai Raden Mas Wongsoriyah di pulosari Sumororoto Ponorogo
15.9.      Kiyai Raden Mas Umar sidik Babatan Kanten Ponorogo
  1. Nyai MUHAMMAD SANTRI/ Nyai SANTRI  mempunyai 5 orang anak
16.1.      Kiyai Raden Mas Maklum Sewulan madiun
16.2.      Kiyai Raden Mas Hasan bashori sewulan madiun
16.3.      Kiyai Raden Mas Tafsiruddin II di Sewulan madiun 
16.4.      Raden Mas Sosro dirjo sumare ing sewulan madiun
16.5.      Nyai Affiyo sumare ing Mijoduwur nganjuk
  1. Kiyai TAFSIRUDDIN II  Sewulan madiun ( Mempunyai 16 Orang anak )
17.1. Kyiai Raden Mas Buntoro -- Kiyai ILYAS ---  Nyai Hasim--- Wahid  Hasyim--- Abdurrahman Wahid 
17.2. Kiyai Raden Mas jekso
17.3. Kiya Raden Mas i mukibar
17.4. Nyai belandung pagotan uteran
17.5. Nyai Muntoha  Gambiran
17.6. Nyai ngabdul Latif Pagotan ngelames
17.7. Nyai Ngali Zen Ponongko, pucang rejo Juwan Madiun
17.8. Kiyai Raden Mas Imam Rejo Pohnongko Paron Ngawi
17.9. Kiyai Raden Mas Irodirjo Pucang anom delopo
17.10. Kiyai Raden Mas Aruman
17.11. Nyai Umuk Penarip Sooko Mojokerto
17.12. Nyai Idris Bendungan Nganjuk
17.13. Kiyai R Raden Mas Rejo Muhammad Sewulan Madiun
17.14. Kiyai Raden Mas Khasan Rejo  Sewulan Madiun
17.15. Kiyai Raden Mas Sastri Irono Sewulan Madiun
17.16. Kiyai Raden Mas Chasan Warjoyo Ngagel, selembur, delopo
  1. NYAI UMUK Penarip Sooko Mojokerto Berputra 1 Orang bernama
18.1.      Kiyai Rofi`I Yang menetap di Kuncen Mojokerto
  1. Kiyai ROFI`I Kuncen Mojokerto Beliau berputra 6 Orang
19.1.      Nyai ruqoiyyah, sinoman Mijokerto
19.2.      Nyai Syafurah Ponpes Penarip Mojokerto
19.3.      Nyai Chalimah Pekukuhan Mojosari
19.4.      Abdul Alim Sinoman Mojokerto
19.5.      Abdul Mu`in Sinoman Mojokerto
19.6.      Umi Kulsum Penarip Mojokerto
  1. Nyai SYAFURAH  Di peristri Kiyai ILYAS ( Ponpes Penarip Mojokerto )
20.1.      Nursalim Mojokerto
20.2.      Nyai Maisyaroh Penarip Mojokerto
20.3.      Ahmad Penarip Mojokerto
20.4.      Mohammad Thoyib Penarip Mojokerto
20.5.      Muhammad Shidiq Penarip Mojokerto
20.6.      Nyai JUWARIYAH  
20.7.      Kiyai Isma`il
  1. Nyai JUWARIYAH Diperistri K. H. GHOZALI ( Ponpes Mojodadi, Selorejo Mojowarno Jombang mempunyai 10 orang anak)
21.1.      H. Masduqi, Kandangan Pare Kediri
21.2.      Nyai Siti Chiriyah Mojodadi Mojowarno Jombang
21.3.      Nyai Sholkhah Mojodadi Mojowarno Jombang
21.4.      Dawam ( Alm)
21.5.      K. Ahmad Dimyati Alm Sroyo Dlanggu Mojokerto
21.6.      Nyai Saudah, Mlaras Sumobito Jombang
21.7.      K. Ahmad Baidlowi SEmobiti Melaras  Jombang
21.8.      Nyai Rochimah ALM
21.9.      Sonhaji Sememi tandes Surabaya
21.10.   K. Ahmad Syaifuddin Mojodadi Mojowarno Jombang

3 komentar:

  1. Senang membaca kisah diatas, berkenan saya tambahkan silsilah keluarga saya yang juga keturunan dari Ki Bagus Harun Basyaraiyah, dari cucu beliau Maklum Buntoro dan Ny Arfiyah, sbb


    1. Maklum Buntara, berputera 2. Arfiyah, berputera
    Mustarom, berputera Ny Salimin, berputera
    Ny Moh Abror, berputera Ny Ali Imron, berputera
    Moh Zainuddin Imam Muhtar, berputera
    Asyhiroh
    Moh Zainuddin kemudian menikah dengan Asyhiroh, berputera
    Umi Habibah, berputera
    Fatihah (Suwaru), berputera
    Faizah Zuhro/Ny Baidlowi Mursyid (Catakgayam), berputera
    Moh Thamrin Bey (Catakgayam), berputera
    1. Izzah Aulia/Ny Moh Alfian (Bontang), berputera
    Aisyah Nur Fadilla
    2. Tita Rif’atul mahmudah
    3. Mutia Syarifah
    4. Nirwan Baharuddin Shubhan
    5. Moh Iqbal Baidlowi
    Saya terperanjat ternyata dzurriyah mBah Bagus harus ada yang di desa tetangga, kapan kita bisa ketemu ya.

    BalasHapus
  2. Ralat:
    Waduh, maaf ada kesalahan upload. Yang benar adalah sbb:
    1. Maklum Buntoro, berputera Mustarom, berputera Ny Moh Abror, berputera Moh Zainuddin. Sementara itu putera kedua Ki Bagus Harun bernama Ny Arfiyah, berputera Ny Salimin, berputera Ny Ali Imron, berputera Imam Muhtar, berputera Asyhiroh.
    Asyhiroh kemudian menikah dengan Moh Zainuddin, berputera Umi Habibah, demikian seterusnya.

    BalasHapus
  3. Ada yg aneh dengan tulisan di atas. R.Bahurekso kok disamakan dengan R.Padurekso. keanehan yang kedua, bhw Pangeran Pringgoloyo itu putra langsung dari Panembahan Senopati. Kok pada tulisan di atas, di antara Panembahan Senopati dan R.Pringgoloyo, ada nama mas Jolang dan Pangeran Kajoran segala?.Jika anda ingin tau silsilah dan makam Pangeran Haryo Pringgoloyo, mari saya ajak ke Ponorogo. Adapun di Jogja ada daerah Pringgolayan dan makam Patih Pringgoloyo ( yg ada pohon pring apus nya), itu sudah tokoh lain.Jauh masanya dengan Raden Pringgoloyo yg saya maksud ini.

    BalasHapus