Jumat, 02 November 2012

Sejarah Singkat Majapahit


Sejarah Singkat Majapahit


2.1 SEJARAH TERBENTUKNYA KERAJAAN MAJAPAHIT
Berdasarkan isi dari Kitab Nagarakertagama dan Pararaton, berdirinya Kerajaan Majapahit sebenarnya tidak lepas dari eksistensi Kerajaan Singasari yang pada awalnya didirikan oleh Ken Arok. Cerita ini bermula dari terbunuhnya Raja Kertanegara (Raja Singhasari Terakhir) ketika terjadi serangan dari Jayakatwang. Menantu Kertanegara yang bernama Raden Wijaya berhasil meloloskan diri dari musibah pemberontakan tersebut. Ia melarikan diri ke Madura dan diterima dengan baik oleh Bupati Sumenep yaitu Arya Wiraraja. Raden Wijaya diberi hadiah berupa tanah di Hutan Tarik yang ada di daerah Sidoarjo, Jawa Timur dari hasil tipu daya yang dilakukannya kepada Jayakatwang atas nasehat dari Arya Wiraraja, Raden Wijaya membangun sebuah desa yang kelak diberi nama Majapahit (Mulyana, 1979:177). Sebelum Kertanegara terbunuh, ternyata dalam pemerintahannya sudah mampu menaklukkan wilayah di luar Pulau Jawa yang berdasarkan isi Kitab Nagarakertagama dalam Soekmono (1973:65-66) bahwa pada tahun 1284 Masehi wilayah Bali dapat ditaklukkan oleh Raja Kertanegara. Wilayah lain yang juga ditaklukkan meliputi: Pahang, Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat Daya), dan Gurun (Maluku). Termasuk wilayah yang berada dalam lingkungan Kerajaan Singhasari. Selain itu, dalam ekspedisi Pamalayu, Kertanegara juga mengadakan hubungan politik dengan penguasa dari Kerajaan Campa di Kamboja yang bernama Raja Simhawarman III, di mana Raja Simhawarman III mempunyai dua orang istri. Seorang diantaranya adalah adik dari Raja Kertanegara yang bernama Tapasi. Karena menurut Prasasti Po Sah (di Hindia Belakang), Tapasi berasal dari Jawa. Pada saat Kerajaan Campa diserang oleh Kerajaan Annam, Tapasi melarikan diri ke Jawa.
Nama Majapahit diperoleh ketika orang-orang Madura sedang diperintahkan oleh Arya Wiraraja untuk bekerja membuka lahan di hutan Tarik. Dalam keadaan lapar mereka mencoba masuk ke dalam hutan untuk mencari buah-buahan. Akan tetapi, yang mereka temui adalah sebuah pohon yang berbuah lebat namun rasanya pahit sekali. Mereka yang tidak suka langsung memuntahkannya, dan yang makan karena sedang mabuk tidak ada makanan. Buah itu bernama buah maja. Maka dari itu daerah hutan Tarik yang baru dibuka dinamakan Majapahit (Mulyana, 1979:155).
Dalam waktu yang singkat, hutan Tarik dapat dibuka untuk menjadi tempat tinggal orang-orang madura. Daerah yang telah dibuka itu berupa sawah yang sudah ditanami, kebun-kebun bunga, pucang, kelapa, dan pisang. Setelah membuka lahan tersebut, Raden Wijaya sudah tidak mau lagi kembali ke Kediri karena ingin menetap di dearah itu untuk mempersiapkan pemberontakan. Persiapan pemberontakan tersebut dilakukan secara rahasia. Menunggu lama Raden Wijaya yang tak kembali ke Kediri, Jayakatwang menyuruh Mentri Segara Winotan untuk menyusul Raden Wijaya Ke tempat tersebut. Setelah bertemu dengan Raden Wijaya Ia tidak diberi kesempatan untuk melihat keadaan perkampungan yang baru dibuka itu.
Menurut Soekmono (1979:68) dahulu sebelum Kertanegara dihancurkan oleh Jayakatwang, ternyata pernah memiliki masalah dengan pasukan Tiongkok atau Kubilai Khan yang menuntut pengakuan kedaulatan Kaisar Kubilai Khan. Pemimpin utusan itu yang pada saat itu bernama Meng Ki, dipersilahkan pulang ke Tiongok setelah di beri cacat pada muka pada mukanya oleh Raja Kertanegara. Penghinaan itu menimbulkan kemarahan yang luar biasa pada Kaisar Tiongkok atau Kubilai Khan. Sehingga pada tahun 1289 di kirimnya tentara Tiongkok yang berjumlah 20.000 orang diangkut oleh 1000 kapal dengan membawa bekal satu tahun di kirim ke Jawa untuk menuntut balas atas penghinaan yang pernah di lakukan oleh Kertanegara.
 Pelabuhan yang menjadi tempat pertama pendaratan rombongan pasukan Tiongkok adalah Tuban dan pelabuhan Sedayu di dekat Surabaya. Mereka dibawah komando Sih-Pi, Kau Hsih, dan Ike Mese. Panglima Tiongkok yang bernama Ike Mese mengirim tiga utusan ke perkampungan baru Majapahit untuk menyampaikan pesan kepada Raden Wijaya yang isinya untuk segera tunduk dan mengakui kekuasaan Kaisar Kubilai Khan. Raden Wijaya menjawab bersedia tunduk kepada kaisar Tiongkok, namun Ia juga bercerita kepada utusan tersebut kalau sedang ada pertengkaran dengan Raja Jayakatwang yang berhasil membunuh Kertanegara. Akan tetapi, pasukan Kediri yang berkeliaran di Desa Majapahit telah mengetahui Raden Wijaya meminta bantuan kepada pasukan Tiongkok. Maka terjadilah pertempuran antara pasukan Kediri dengan pasukan pasukan Raden wijaya yang diboncengi oleh Tentara Tiongkok. Pasukan Kediri berhasil dipukul mundur oleh tentara Tiongkok dibawah pimpinan Kau Hsing. Delapan hari kemudian, tentara Tiongkok bersiap mengadakan serangan balasan kepada Kediri. Hal ini dimanfaatkan oleh Raden Wijaya untuk menghantam musuh-musuhnya. Kemudian Ia menggabungkan dirinya dengan pasukan Tiongkok untuk menyerang kekuasaan Jayakatwang di Kediri. Bersama pasukan Tiongkok, Raden Wijaya menggempur Kediri dengan serangan sebanyak tiga kali dalam sehari yang mengakibatkan Jayakatwang mempertahankan dirinya dengan mati-matian dan akhirnya menyerah. (Mulyana, 1979:118).
Setelah berhasil mengalahkan Kediri dan menahan Jayakatwang serta anaknya, Raden wijaya kemudian berpura-pura untuk meminta ijin kepada Panglima Tiongkok untuk pergi ke Desa Majapahit dengan alasan untuk mengambil upeti untuk Kaisar Tiongkok. Mereka tanpa curiga mengijinkannya serta diperintah dua orang perwira dan dua ratus prajurit untuk mengawalnya. Raden Wijara secara tiba-tiba menimbulkan kekacauan atau serangan secara mendadak di kalangan pasukan Tiongkok. Bahkan juga menyerang pasukan Tiongkok yang sedang berkubu di Daha dan Canggu mengadakan pesta kemenangan dengan mabuk-mabukan. Peristiwa tersebut mengakibatkan tentara Tiongkok mundur ke laut dalam kejaran pasukan Majapahit serta kehilangan tiga ribu prajurit. Dalam hal ini Jayakatwang dan anaknya yang sedang ditawan juga ikut terbunuh. Dengan terbunuhnya Jayakatwang dan terusirnya pasukan Kubilai Khan, maka hal itu mengukuhkan Raden Wijaya sebagai raja Majapahit yang pertama.
2.2 PEMERINTAHAN YANG PERNAH BERLANGSUNG DI MAJAPAHIT
2.2.1     Raden Wijaya (1293-1309)
Pada tahun 1292, ekspedisi Pamalayu telah berakhir. Pasukan Singhasari yang dikirim ke Sumatra untuk melakukan ekspedisi Pamalayu telah kembali ke Singhasari. Mereka kaget karena Raja Kertanegara sudah tiada. Dan mereka juga tidak tahu kalau ada peristiwa yang menghancurkan Kerajaan Singhasari. Kemudian Raden wijaya dengan diperkuat pasukan Singhasari yang baru kembali itu, pada tahun 1293 menobatkan dirinya menjadi Raja Majapahit yang pertama bergelar Kertarajasa Jayawardana. Sekaligus memindahkan ibukota Kerajaan Majapahit dari daerah Tarik, Sidoarjo ke wilayah Sastrowulan (Trowulan). Ia mempunyai empat orang istri, yang semua anak Kertanegara yaitu: pertama Tribhuwana (Mahalalita) yang menjadi Parameswari, kedua adalah Mahadewi, ketiga Jayendradewi (Prajnaparamita), dan ke-empat atau yang bungsu bernama Gayatri atau Rajapatni. Gayatri atau Rajapatni lebih terkenal karena dari keturunannya kekuasaan majapahit terus berlangsung. Selain keempat orang istrinya itu, dalam Nagarakertagama juga menyebut seorang istri Kertarajasa tetapi bukan anak dari Kertanegara yang bernama Indreswari sebagai Parameswari yang berputra Kaligemet atau Jayanagara. (Mulyana, 1979:124).
Raja Kertarajasa memerintah dengan tegas dan bijaksana, maka keadaan kerajaan menjadi aman dan tentram. Dalam sistem pemerintahannya, Ia menyamakan dengan sistem yang pernah di pakai oleh Kerajaan Singhasari. Tetapi Ia hanya kepada tiga mentri ditambah dua lagi yaitu: Rakryan Rangga dan Rakryan Tumenggung. Sementara itu, pembantu-pembantunya yang setia dan telah mendampingi dan mengawalnya pada saat Ia masih menderita dahulu dalam rangka menegakkan Kerajaan Majapahit diberi tempat yang semestinya dalam pemerintahan. Sedangkan Wiraraja yang memberikan nasihat kepadanya saat masa perang dengan Jayakatwang diberi kedudukan lebih tinggi, serta wilayah kekuasaannya ditambah daerah Lumajang sampai Blambangan. Pada masa ini terjadi sebuah pemberontakan yakni Pemberontakan Ronggolawe pada tahun 1295 dari Tuban. Menurut Mulyana (1979:121) pada Piagam Penanggungan, nama Ronggolawe atau Arya Adikara adalah putra Wiraraja. Penyebab terjadinya pemberontakan adalah rasa tidak puas Ronggolawe terhadap Kerajaan Majapahit yang mengangkat Nambi sebagai patih Kerajaan. Akan tetapi, pemberontakan tersebut pada tahun 1309 dapat digagalkan.
Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana wafat pada tahun 1309, dan meninggalkan satu anak laki-laki dari Indreswari yang bernama Kaligemet atau Jayanagara, kemudian dua anak perempuan dari Gayatri: Dyah Wiyah atau Raja Dewi yang diberi julukan Bhre Daha dan Sri Gitarja atau Tribhuwanatunggadewi sebagai Bhre Kahuripan. Sedangkan istri kedua dan ketiga tidak meninggalkan keturunan (Soekmono, 1973:69).
2.2.2     Jayanagara (1309-1328)
Setelah Kertarajasa wafat, kekuasaan digantikan oleh anaknya dari Indreswari atau Parameswari yang bernama Kaligemet, dan pada saat itu Kaligemet masih relatif muda. Setelah naik tahta, Kaligemet bergelar Jayanagara. Dalam pemerintahannya, Jayanagara mengalami banyak kesulitan. Terutama karena banyak terjadi pemberontakan-pemberontakan dalam kerajaan. Pada masa pemerintahan Jayanagara, terjadi banyak pemberontakan. Pemberontakan-pemberontakan tersebut adalah:
      Pemberontakan Lembu Sora
Pada tahun 1311 disusul dengan dengan pemberontakan Lembu Sora, pemberontakan ini disebabkan siasat adu domba dan tebar fitnah yang dilakukan oleh Mahapati terhadap Lembu Sora, karena ingin mengingkirkannya. Mahapati mengfitnah Lembu Sora membunuh Mahesa Anabrang setelah menumpas Ronggolawe. Lembu Sora sebenarnya hampir dihukum mati karena hal tersebut. Karena Mahapati sudah mengadukannya pada Sang Prabu. Akan tetapi, Mahapati berpura-pura membela Lembu Sora supaya tidak dihukum mati. Mahapati meminta Sang Prabu untuk mengirimkan surat peringatan kepada Lembu Sora. Lembu Sora memberikan surat balasan yang berisi masih bersedia menyerahkan jiwa raga di hadapan Sang Prabu. Saat surat itu diberikan kepada Mahapati, Ia tidak puas dengan jawaban Lembu Sora. Dilaporkannya Lembu Sora Beserta kawan-kawannya sudah sepakat akan berkhianat. Saat Lembu Sora Beserta kawan-kawannya akan menemui Sang Prabu di istana, pasukan Majapahit sudah persiapkan oleh Nambi sudah menghadangnya. Lembu Sora tetap memaksa masuk untuk menemuhi Baginda Raja. Perkelahian terjadi, akhirnya Lembu Sora kawan-kawannya mati terbunuh dalam perkelahian tersebut. Sehingga, siasat Mahapati berjalan dengan baik.

      Pemberontakan Nambi
Pemberontakan yang kedua terjadi pada tahun 1316 yang dilakukan oleh Patih Majapahit sendiri yang bernama Nambi. Strategi Nambi dalam melakukan pemberontakan ini diperkuat dengan membuat benteng perang di Pajarajakan serta di wilayah ayahnya yaitu di Lumajang. Nambi tidak lain adalah anak dari Pranaraja atau Mpu Sina yang masih ada hubungannya dengan Wiraraja, yang pernah diberi kekuasaan oleh Kertarajasa karena jasa-jasanya. Hal itu diketahui ketika Nambi menjadi menjadi incaran Mahapati. Nambi juga pernah bercerita kepada Mahapati bahwa Raja Jayanagara tidak pernah suka kepadanya. Supaya tidak terjadi ke salah pahaman antara Nambi dan Sang Prabu, Mahapati memberi nasihat kepada Nambi untuk sementara waktu tinggal di Lumajang. Nambi pun percaya dengan nasihat Mahapati, dan kebetulan ayah Nambi yang bernama Pranaraja telah meninggal. Berita kematian Pranaraja sampai di istana Majapahit.
Sebagai rasa belasungkawa Sang Prabu mengirimkan utusan ke Lumajang. Kemudian Mahapati menasehati Nambi lagi untuk memperpanjang cutinya dan Mahapati akan menyampaikan kepada Sang Prabu. Nambi bersedia dengan nasihat Mahapati. Akan tetapi, pada saat Mahapati datang ke istana dan menghadap Sang Prabu, Ia menyampaikan apa yang telah di ketahuinya yaitu segala sesuatu yang dipersiapkan oleh Nambi untuk memberontak kepada Kerajaan Majapahit. Sekaligus di tambah pembesar-pembesar  Majapahit yang berangkat ke Lumajang secara sukarela untuk menambah kekuatan dalam Pemberontakan yang akan di lakukan oleh Nambi.  Kemudian untuk menumpas pemberontakan tersebut, Sang Prabu memerintahkan  pasukan Majapahit dibawah pimpinan Mahapati untuk dikirim ke  wilayah Pajarakan dan Lumajang, peristiwa tersebut dalam Negarakertagama disebut perang Lumajang. Dalam hal ini, Prabu Jayanagara diberitakan juga ikut berangkat ke Lumajang untuk memerangi Musuh. Perang Lumajang berlangsung pada tahun 1316 dan berhasil membinasakan Nambi beserta keluarganya.

      Pemerontakan Kuti
Pemberontakan yang ketiga, terjadi pada tahun 1319 yang di lakukan oleh Kuti. Pemberontakan ini merupakan yang paling berbahaya dalam masa pemerintahan di Majapahit.Pemberontakan ini berlangsung selama tiga tahun setelah terjadinya perang Lumajang. Kuti adalah anak seorang Dharmaputra, Ia berhasil menduduki istana Majapahit tetapi tidak berhasil menangkap Raja Jayanagara. Dalam pemberontakan ini, Raja Jayanagara terpaksa melarikan diri ke Desa Bebander yang di kawal oleh pasukan lindungan penjaga istana atau yang disebut dengan pasukan Bhayangkara sebanyak 15 orang dan dipimpin oleh Gajah Mada. Beberapa saat kemudian, Gajah Mada dan pasukan Bhayangkara berhasil menumpas pemberontakan tersebut dibantu oleh para pembesar dan rakyat Majapahit. Sehingga Jayanagara tanpa suatu rintangan dapat kembali ke ibukota untuk melanjutkan pemerintahannya. Dan atas jasanya, Gajah Mada pada saat itu juga di angkat menjadi patih di Kahuripan dan dua tahun kemudian menjadi patih di Daha.
(Mulyana, 1979:122-128)
       Jayanagara wafat pada tahun 1328, Jayanagara meninggal karena seorang tabib yang bernama Tanca dan sebenarnya masih se-komplotan dengan Dharmaputra pada pemberontakan Kuti. Hal itu berawal dari istri Tanca yang mendengar bahwa Raja Jayanagara tidak mengijinkan Putri Tribhuwanatunggadewi dan Dyah Wiyah Rajadewi untuk berhubungan dengan pemuda lain, karena Ia ingin menikahinya sendiri. Hal tersebut membuat Tanca mengadu pada Gajah Mada. Karena Gajah Mada megetahui bahwa Sang Prabu memiliki penyakit bisul dan membutuhkan pengobatan, maka Tanca diperintahnya untuk membunuh Sang Prabu dengan jalan pura-pura mengobati.
       Pada saat pemotongan bisul tersebut awalnya berjalan dengan baik, namun secara tiba-tiba disertai dengan tikaman yang menyebabkan Sang Prabu Jayanagara meninggal di tempat tidurnya. Kemudian Gajah Mada yang menunggu disebelah Sang Prabu segera bangkit dan menusuk Tanca segera dia mati juga. Jayanagara Meninggal dengan tidak meninggalkan putra. Maka pemerintahan sementara dijalankan atau diambil alih oleh Gayatri atau Rajapatni, yang tidak lain adalah istri almarhum Kertarajasa.
       Raja Jayanagara meninggal pada tahun 1328 tanpa meninggalkan seorang keturuan  pun. Ia dimuliakan di Syila Petak dan di Bubat dengan perwujudannya sebagai dewa Wisnu. Sedangkan di Sukalila sebagai Amogashiddhi. Sayangnya kini letak-letak candi tersebut tidak dapat diketahui keberadaannya lagi (Soekmono, 1973:70).
2.2.3     Tribhuwanatunggadewi (1328-1350)
Dengan wafatnya raja Jayanagara yang dibunuh oleh Tanca berarti kebebasan bagi putri Tribhuwanatunggadewi dan Dyah Wiyah Rajadewi Maharajasa yang sebelumnya dikekang oleh raja Jayanagara. Kemudian putri Tribhuwanatunggadewi menikah dengan raja Singasari Kertawardhana. Sehingga Tribhuwanatunggadewi menjadi rani Kahuripan dan Dyah Wiyah Rajadewi Maharajasa menjadi rani Daha.
       Wafatnya Jayanagara yang tidak meninggalkan satu pewaris pun membuat Gayatri atau Rajapatni lah yang berhak menjadi penerus tahta Majapahit. Tetapi karena Gayatri telah memutuskan untuk menjadi bhiksuni, maka yang melanjutkan tampuk pemerintahan adalah anaknya yang bergelar Tribhuwanatunggadewi Jayawishnuwardhani. Dalam kala pemerintahan Tribhuwanatunggadewi, terjadi dua pemberontakan yang kemudian menakdirkan Gajah Mada yang waktu itu menjabat menjadi patih Majapahit, diangkat menjadi patih mangkubumi Majapahit. Pemberontakan tersebut adalah pemberontakan Sadeng dan Keta (Mulyana, 1979:133).
       Pada saat itu, jabatan patih mangkubumi Majapahit dipegang oleh Arya Tadah. Namun, karena kondisi kesehatannya yang mulai memburuk, ia meminta agar bisa mengundurkan diri dari jabatan tersebut. Arya Tadah mulai mencari pengganti patih. Ia kemudian menjatuhkan pilihan pada Gajah Mada. Gajah Mada tidak serta merta menerima penawaran dari Arya Tadah. Ia bermaksud ingin mengukir jasa bagi Majapahit dengan menumpas pemberontakan Sadeng dan Keta. Tetapi, ia hanya berhasil menumpas pemberontakan Keta. Sementara pemberontakan Sadeng berhasil ditakukkan oleh ratu Tribhuwanatunggadewi sendiri.
       Pada tahun yang sama dengan munculnya dua pemberontakan tersebut yakni pada 1331, patih Gajah Mada diangkat menjadi patih mangkubumi. Pada saat pengangkatannya menjadi patih mangkubumi, ia mengucapkan sumpah yang dikenal di kemudian hari sebagai sumpah Palapa. Ada beberapa pihak yang mengartikan Palapa sebagai istirahat. Sehingga dari situ diperoleh suatu kesimpulan bahwa Gajah Mada tidak akan berhenti atau beristirahat sebelum ia berhasil menaklukkan seluruh Nusantara. Dalam versi yang berbeda disebutkan bahwa daerah yang ingin ditaklukkannya adalah Gurun, Seran, Tanjungpura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, dan Tumasik (Mulyana, 1979:132).
       Dalam jenjang waktu pemerintahan Tribhuwanatunggadewi inilah, Majapahit mulai melakukan ekspansinya untuk memperluas wilayah kekuasaan. Pada tahun 1350, Gayatri wafat. Sehingga Tribhuwanatunggadewi meletakkan tahtanya kembali untuk dilanjutkan oleh Hayam Wuruk yang merupakan anak dari hasil pernikahannya dengan Kertawardhana. Hayam Wuruk lahir pada tahun 1334.
2.2.4     Hayam Wuruk (1350-1389)
       Hayam Wuruk memerintah kerajaan Majapahit dengan gelar Sri Rajasanagara. Ia merupakan raja termuda yang pernah dimiliki oleh Majapahit. Nama lengkapnya adalah Dyah Hayam Wuruk. Hayam berarti ayam, sedangkan Wuruk berarti muda. Sehingga nama Hayam Wuruk berarti ayam yang masih muda (Sumadio, 1984:435).
       Dibawah pemerintahan raja muda ini, kerajaan Majapahit mengalami masa keemasan. Hal ini dibuktikan melalui keberhasilannya dalam menguasai hampir seluruh wilayah Nusantara bahkan juga di jazirah-jazirah Malaka (negara-negara Asean yang berada di sekitar selat Malaka sekarang) dibawah panji Majapahit bersama patihnya, Gajah Mada. Selain itu, Hayam Wuruk juga berhasil mewujudkan hubungan persahabatan yang baik dengan negara lain. Salah satu coretan hitam pada masa pemerintahan Hayam Wuruk ialah terjadinya perang Bubat yaitu perang di lapangan Bubat antara Majapahit dan kerajaan Pajajaran (Sunda) ketika Prabu Hayam Wuruk dalam strategi penaklukan Sunda menggunakan cara menikahi Putri Sunda yang bernama Dyah Pitaloka sehingga terjadi perbedaan pendapat pada Raja Sunda dan Gajah Mada yang berakhir pada perang Bubat (Mulyana, 1979:136).
       Namun pada kurun waktu ini pula patih Gajah Mada meletakkan jabatannya sebagai patih mangkubumi Majapahit. Sehingga tugas yang sebelumnya diemban oleh patih Gajah Mada diserahkan kepada empat orang menteri (Soekmono, 1973:73).
Pemerintahan yang baru ini lebih menekankan pada penjagaan atas keutuhan negara. Sehingga keputusan-keputusan dan tindakan-tindakan yang dilakukan lebih mengutamakan aspek kemakmuran rakyat dan kesejahteraan seluruh daerah-daerah kekuasaannya. Hal tersebut diwujudkan dengan pembangunan candi-candi. Tidak hanya itu, dunia sastra pun mengalami kemajuan yang signifikan. Ada banyak karya sastra yang lahir pada masa ini. Diantaranya adalah kitab Negarakertagama yang dikarang oleh Mpu Prapanca, kitab Arjunawiwaha dan Sutsasoma yang digubah oleh Mpu Tantular (Kusumajaya, hal11).
       Di lain sisi, Majapahit benar-benar berhasil memajukan kekuatan militernya menjadi militer yang bisa bergerak cepat dan tegas.
       Hayam Wuruk meninggal pada tahun 1389 dan mungkin ia dimakamkan di Tayung (daerah Berbek, Kediri)
2.2.5      Wikramawardhana (1389-1429)
       Wikramawardhana adalah seorang suami dari anak Hayam Wuruk yang bernama Kusumawarddhani yang juga masih saudara sepupu. Hayam Wuruk juga mempunyai anak laki-laki dari istri selir yang bernama Wirabhumi, yang diberi kekuasaan dibagian ujung Jawa Timur. Wirabhumi bertahta di wilayah Blambangan. Menurut Iskandar (2009:52) Pada tahun 1401, terjadi perang antara Majapahit Barat dan Majapahit Timur. Perang tersebut dinamakan perang paregreg. Majapahit Barat dipimpin oleh Wikramawardhana, sedangkan Majapahit Timur dipimpin oleh Wirabhumi. Perang tersebut berakhir tahun 1406 dengan dimenangkan oleh Wikramawarddana. Dalam perang tersebut Wirabhumi terbunuh. Selain itu, Soekmonomenurut catatan dari Laksamana Cheng Ho, pada tahun 1405 saat terjadinya perang tersebut Ia dan utusan dari Tiongkok sedang berada di Kerajaan Majapahit Timur. Perang tersebut juga menewaskan 170 orang orang utusan dari Tiongkok. Oleh karena itu, Kaisar Tiongkok menuntut denda berupa emas sebanyak 60.000 tail. Akan tetapi, pada tahun 1408 hanya diberi seperenam dari denda tersebut dilunasi. Emas tersebut diterima, dan Raja Wikramawardhana dibebaskan dari pembayaran lebih lanjut.
       Terjadinya perang tersebut dimanfaatkan oleh Kerajaan asing untuk menanamkan pengaruhnya terhadap beberapa wilayah bawahan Majapahit. Seperti Cina yang menanamkan pengaruhnya kepada Malaka yang saat abad ke-15 meminta perlindungan Kaisar Cina meski tidak dinyatakan lepas dari Majapahit. Kemudian beberapa wilayah di Kalimantan Barat yang sejak tahun 1368 telah diganggu oleh bajak laut dari Sulu(Piliphina) sebagai alat Kaisar Tiongkok. Tetapi wilayah tersebut pada tahun 1405 sama sekali tunduk kepada Tiongkok tanpa suatu tindakan dari majapahit. Dalam itu juga Palembang dan Melayu juga mengarahkan pandangannya ke Tiongkok., tanpa menghiraukan Majapahit. Pelabuhan Malaka sebagai pelabuhan dan kota dagang yang terpenting di samping samudra telah hilang dari pandangan Majapahit karena telah terjadi perkembangan Islam pada tahun ±1400 masehi. Daerah lain melepaskan diri satu persatu, ada daerah yang masih mengaku bawahan Majapahit tetapi dalam prakteknya tidak ada hubungannya dengan pusat.
       Wikramawarddhana wafat pada tahun 1429 dan kerajaan Majapahit dalam keadaan tidak utuh lagi. Penggantinya adalah Suhita yang memerintah antara tahun 1429 sampai 1447. Suhita kemudian digantikan oleh Krtawijaya memerintah antara 1447 sampai 1451.  Menurut kitab Pararaton, Raja Majapahit selanjutnya pengganti Krtawijaya  adalah Rajasawardhana tetapi Ia berkeraton di Kahuripan, dan memerintah antara tahun 1451 sampai 1453. Selama tiga tahun kemudian Majapahit tidak memiliki raja, baru pada tahun 1456 yang menjadi raja adalah Hyang Purwawisesa yang memerintah sampai tahun 1466. Kemudian digantikan oleh Pandan Salas yang bergelar Singhawikramawarddhana berkeraton di Tumapel. Ia memerintah selama dua tahun. Pada tahun 1468 Ia didesak oleh Kertabhumi, anak bungsu dari Rajasawardhana. Kemudian Ia memindahkan pusat pemerintahannya ke Daha. Sampai Ia wafat pada tahun 1474.
       Pengganti Singhawikramawaddhana di Daha adalah anaknya sendiri yang bernama Ranawijaya yang bergelar Bhatara Prabu Girindrawardhana. Pada tahun 1478, raja ini berhasil menundukkan Wirabhumi dan merebut Majapahit. Kemudian Ia menamakan dirinya Raja Wilwatikta Daha Jenggala Kadhiri dan sampai kapan waktu Ia memerintah belum diketahui. Dari sini riwayat majapahit gelap, hanya ada berita dari Portugis yang menyatakan bahwa pada tahun 1522, Majapahit masih berdiri. Pada tahun 1527 runtuh karena serangan dari Kerajaan Demak yang merupakan kerajaan pemeluk islam pertama di Pulau Jawa. Sebenarnya Demak sebelumnya adalah kerajaan bawahan (Iskandar, 2009:53).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar